Bab Seratus Empat Puluh Tiga: Dia Ingin Menemuimu
Xu Yang menyerahkan urusan selanjutnya kepada mereka dan bergegas pulang.
Kini kondisi pasien sudah stabil dan benar-benar terlepas dari bahaya. Namun, Xu Yang tidak bisa menyembuhkan penyakit semacam itu. Meskipun sudah selamat dari kondisi kritis, diperkirakan sisa hidup pasien tidak akan lama lagi.
Seringkali, pengobatan tradisional Tiongkok merasa tidak berdaya saat menghadapi penyakit mematikan semacam ini. Strategi yang diambil adalah sebisa mungkin memperkuat daya tahan tubuh dan membuang faktor patogen untuk memperpanjang usia pasien.
Kemudian, di sisa hari-harinya, pasien diupayakan agar bisa menjalani hidup senormal mungkin, melakukan apa yang perlu dilakukan, dan menyelesaikan hal-hal yang belum sempat dilakukan, agar penyesalan tidak terlalu besar.
Xu Yang langsung pulang ke rumah.
Ia merasa malu dan canggung karena sudah dua hari menghabiskan waktu di rumah sakit pengobatan tradisional, sehingga tidak bisa bekerja di Mingxintang.
Malam itu, setelah makan malam, Xu Yang menghabiskan waktu dengan membaca buku.
Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, ia tiba-tiba menerima telepon dari Cao Dehua.
"Halo, Direktur Cao, ada apa?"
Cao Dehua berkata di seberang telepon, "Begini, tersangka yang sedang dirawat itu... pihak kepolisian mengalami kendala dalam interogasi, mungkin kami butuh bantuanmu."
"Baik, saya segera ke sana." Xu Yang menutup telepon dengan perasaan heran. Interogasi bermasalah? Maksudnya apa? Jangan sampai mereka menginterogasi terlalu keras hingga membuat pasien itu jatuh sakit lagi.
Xu Yang tidak berpikir panjang dan langsung meluncur ke rumah sakit. Ia terpaksa meminta maaf kepada Zhang Ke karena tidak bisa masuk kerja lagi.
Sesampainya di rumah sakit, Cao Dehua dan adiknya, Cao Dahua, sudah menunggu di bawah.
Setelah memarkir sepeda listriknya, Xu Yang bertanya, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada pasien?"
Cao Dehua menjawab, "Kondisinya tidak berubah, hanya saja..." Ia melirik adiknya.
Cao Dahua menyambung, "Kami sudah menginterogasi tersangka sejak semalam, tapi dia sangat tidak kooperatif. Kondisinya masih lemah karena baru saja melewati masa kritis, jadi prosedur interogasi sulit dilakukan. Namun, waktu sangat mendesak, kami tidak bisa menunggu sampai dia benar-benar pulih."
"Tadi pagi, dia meminta untuk bertemu denganmu. Kami pikir ini bisa menjadi celah yang bagus, jadi kami ingin meminta bantuanmu, Dokter Xu."
Xu Yang tertegun. Meminta bantuan untuk menginterogasi tahanan? "Saya tidak bisa menginterogasi orang, saya hanya bisa mengobati penyakit."
Cao Dahua menjelaskan, "Bukan memintamu memimpin interogasi. Kami hanya merasa ini adalah celah. Biasanya tersangka memang sangat resisten di awal. Namun, begitu mereka mulai mengajukan permintaan, seperti ingin merokok atau minum sesuatu, itu tanda pertahanan mental mereka mulai melemah."
"Karena kondisinya belum stabil, banyak metode interogasi yang tidak bisa kami gunakan. Kami berharap Dokter Xu bisa membantu membuka celah ini."
Cao Dehua menimpali, "Benar. Ada pepatah mengatakan kata-kata orang yang akan meninggal itu tulus. Tapi ada juga orang jahat yang justru membalas dendam pada dunia saat tahu ajalnya sudah dekat. Tersangka ini tahu dia tidak akan hidup lama, jadi sulit dipastikan apakah dia mau kooperatif. Jika dia bersikeras tutup mulut, itu akan sangat merepotkan."
Xu Yang mengangguk, "Baiklah, tapi saya tidak tahu harus bicara apa nanti."
Cao Dahua berkata, "Tidak apa-apa. Saya akan memberimu alat pendengar nirkabel. Kamu masuk saja dan mengobrol seperti biasa. Saya akan membisikkan poin-poin penting melalui alat itu."
"Baiklah," jawab Xu Yang pasrah.
Mereka naik ke lantai bangsal perawatan dan tiba di depan kamar pasien. Cao Dahua memasangkan alat pendengar pada Xu Yang, memastikan sambungan berfungsi, lalu membuka pintu kamar.
Saat masuk, Xu Yang merasa agak cemas karena belum pernah melakukan hal semacam ini.
Tersangka bersandar di tempat tidur dengan tangan dan kaki terborgol. Ia menatap Xu Yang, begitu pula sebaliknya.
Tersangka berkata, "Saya ingat Anda. Anda yang menyelamatkan saya, kan?"
Logatnya cukup kental, namun Xu Yang masih bisa mengerti. Xu Yang mengangguk kecil, sementara Cao Dahua mulai membisikkan instruksi lewat alat pendengar.
Xu Yang bertanya, "Bagaimana perasaanmu hari ini? Sudah merasa lebih nyaman?"
Tersangka menjawab, "Jauh lebih baik. Tadinya saya merasa seperti diikat seluruh tubuh, sekarang sudah terasa lebih longgar. Hanya saja, semalam sekitar jam dua belas, dada saya sangat sakit sampai tembus ke punggung, sesak sekali. Tadi pagi saat matahari terbit, itu terjadi lagi."
Xu Yang mengangguk kecil, "Dahak lembap dan darah statis yang bersarang di paru-parumu mulai keluar karena pengobatan kemarin. Meskipun sarang dahaknya sudah pecah, darah statis sulit dihilangkan, itulah sebabnya terasa nyeri."
Tersangka menggeleng bingung, "Saya tidak berpendidikan tinggi, hanya lulus SD. Saya tidak mengerti maksud Anda."
Xu Yang berkata, "Berikan tanganmu, biar saya periksa nadimu lagi."
Tersangka mengulurkan tangannya. Setelah memeriksa nadi, Xu Yang mendapati detaknya sudah lebih stabil di angka 80 kali per menit. Bahaya gagal jantung dan gagal napas sudah teratasi, meskipun fibrosis paru masih cukup parah.
Tersangka tiba-tiba berkata kepada Xu Yang, "Bisakah Anda melepas benda di telinga itu?"
Xu Yang tertegun. Cao Dahua yang berada di luar pun ikut terkejut.
Tersangka melanjutkan, "Saya tahu itu apa. Saya hanya ingin mengobrol dengan Anda, saya tidak ingin berurusan dengan mereka."
Xu Yang sempat ragu. Suara Cao Dahua terdengar dari alat pendengar, "Lepas saja alatnya, tapi jangan matikan teleponnya. Mengobrol saja seperti biasa, buat dia terbuka dan melepaskan kewaspadaannya."
Xu Yang melepas alat pendengar itu, namun sambungan telepon tetap aktif.
Tersangka menatap Xu Yang dan bertanya, "Anda juga datang untuk membujuk saya mengaku, bukan? Kalau bukan karena ingin mendapatkan informasi dari mulut saya, kalian pasti tidak akan menyelamatkan saya, kan?"
Xu Yang terdiam sejenak.
Tersangka tertawa sinis, "Jika kalian sudah menangkap semua anggota kelompok kami, saya pasti sudah mati sekarang. Kalian tidak akan membuang tenaga untuk menyelamatkan orang jahat seperti saya."
Xu Yang menggeleng, "Bukan begitu. Saya hanya seorang dokter. Di mata dokter, tidak ada orang baik atau orang jahat, yang ada hanyalah pasien. Selama pasien ada di depan dokter, kami akan berusaha menyelamatkannya."
Tersangka tertegun, "Anda tidak merasa saya adalah orang yang pantas mati?"
Xu Yang menjawab dengan jujur tanpa beban, "Apakah kamu pantas mati atau tidak, itu bukan wewenang saya untuk menentukan, itu urusan hakim. Bahkan jika harus dihukum mati, itu tugas petugas eksekusi. Saya hanyalah dokter, saya hanya bertugas mengantarmu menemui mereka."
Tersangka terdiam mendengarnya, lalu tiba-tiba tertawa. Senyum aneh tersungging di wajahnya yang kurus kering.