Bab 39: Serangan Mendadak
Sesampainya di kampus, Lin Chang tiba-tiba memanggilnya, “Mau minum kopi dulu buat menghangatkan badan?”
Meskipun He Qiancheng sangat curiga Lin Chang pasti punya rencana, tapi dia toh hanya sendirian, pekerjaannya juga sedang tidak padat, jadi tidak ada alasan untuk menolak. Akhirnya ia menerima ajakan itu dengan santai.
Saat itu, kafe tampak lengang, alunan biola yang lembut berpadu dengan denting cangkir keramik, menambah suasana hangat agak mabuk di sore musim dingin yang diterangi matahari.
Ketika secangkir latte disajikan, He Qiancheng baru mengaduk-aduknya beberapa kali dengan sendok kecil, merasa seharusnya ia mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar.
Toh Lin Chang tidak memperlakukannya seperti bawahan sungguhan, jadi Qiancheng langsung saja mengambil ponselnya. Tak urung ia tertawa geli.
Pesan itu dari Yu Yin, memperlihatkan foto seorang pria dengan wajah sangat berantakan.
“Hahaha, Fang Zhou sepertinya lagi-lagi cari wanita, istrinya sampai menyerbu kantor dan mencakarinya habis-habisan.”
He Qiancheng merasa waktu benar-benar luar biasa, sekarang ia bahkan bisa membalas dengan nada bercanda, “Jadi mukanya kayak apa? Sampai rusak enggak?”
Melihat Qiancheng mengobrol begitu gembira, Lin Chang bertanya, “Ada apa itu?”
Qiancheng pun membalas dengan santai, “Orang yang menyebalkan.”
Ia membuka foto itu dan menyodorkannya, lalu berkata, “Kayaknya istrinya habis memukulinya, benar-benar memalukan, hahaha.”
Namun Lin Chang tak ikut tertawa, bahkan menatap Qiancheng dengan ekspresi aneh.
Qiancheng berpikir, mungkin karena melihat sesama pria dipermalukan seperti itu, Lin Chang yang begitu sopan merasa terganggu. Mungkin foto itu menyenangkan bagi perempuan, tapi pria mungkin tidak suka.
Dengan sedikit canggung, ia menarik kembali ponselnya.
Baru saja ia ingin membalas pesan Yu Yin dan mengakhiri obrolan, ia baru sadar layar ponselnya bukan menampilkan foto jelek Fang Zhou tadi.
Melainkan foto bersama dari sebuah acara, dan sialnya, wajah tampan Lin Chang dilingkari dengan spidol merah.
Apa-apaan ini!
Ia buru-buru membuka riwayat percakapan, baru sadar waktu menyerahkan ponsel tadi, ia tak sengaja menggeser foto ke depan, dan sialnya, malah foto itu yang muncul.
Tangannya yang memegang kopi jadi berkeringat, ia benar-benar bingung harus menjelaskan bagaimana.
Lin Chang di seberang meja malah memperlihatkan ekspresi antara ingin tertawa dan tidak, dengan santai meletakkan jarinya di pinggir meja, seolah menunggu penjelasan.
He Qiancheng bukan tipe yang gampang menyerah, saat seperti ini ia tak boleh mundur. Ekspresi Lin Chang justru membuatnya terpacu, jadi ia langsung berkata, “Temanku terus maksa aku cari pacar. Waktu itu dia tanya tetanggaku kayak apa, aku bilang ganteng, dia enggak percaya, jadilah…”
Ekspresi Lin Chang akhirnya berubah agak canggung, mungkin ia tak menyangka He Qiancheng bisa bicara begitu blak-blakan. Ia hanya menunduk, menyesap kopi untuk menutupi perasaannya.
Saat He Qiancheng merasa ia sudah menang dan bisa menarik diri dengan mulus, Yu Yin mengirim pesan suara. Ia menoleh mendengarkan, dan samar-samar, di telinga kanannya terdengar Lin Chang tiba-tiba berkata, “Jadi, mau enggak pertimbangkan saran temanmu itu, coba sama aku?”
Kalau saja ia tak kenal Lin Chang dengan baik, He Qiancheng pasti mengira itu hanya bualan untuk menang debat.
“Apa tadi?” Ia menunggu sebentar, lalu setelah mendengar pesan suara Yu Yin yang berisik, refleks bertanya balik.
Biasanya di saat seperti ini, cowok bakal melanjutkan, kan? Siapa sangka Lin Chang malah mundur, “Enggak, enggak ada apa-apa.”
Apa-apaan ini, mas? Padahal aku jelas-jelas dengar, lho.
Tapi karena Lin Chang sudah berkata begitu, He Qiancheng mulai meragukan pendengarannya sendiri yang terganggu oleh suara Yu Yin dan musik kafe.
Mungkin maksud Lin Chang, mau pertimbangkan saran teman buat dekat sama siapa? Siapa juga yang bisa mengucapkan kalimat seperti itu dengan wajah tanpa ekspresi, lalu malah menarik ucapan sendiri?
He Qiancheng hari itu pulang dalam keadaan bingung, tapi tak mungkin ia bertanya langsung.
Setelah dipikir-pikir, ia merasa mungkin saja ia salah dengar, atau Lin Chang sendiri belum yakin pada perasaannya pada gadis itu, makanya setelah bicara, ia menyesal.
Kalau memang penjelasan kedua, itu agak bikin sedih...
Tapi ada satu hal yang waktu itu He Qiancheng sendiri belum paham, mungkin, ia sendiri juga tak begitu punya perasaan berdebar pada Lin Chang.
Wajah, sifat, pekerjaan, penghasilan Lin Chang memang bagus semua, tapi saat menatapnya, He Qiancheng masih mengharapkan bisa merasakan letupan kembang api di benaknya.
Soal itu, Yu Yin pasti akan mencibir. Meski Yu Yin tipe orang yang santai dalam urusan cinta dan tak pernah memaksa He Qiancheng untuk segera menikah, menurutnya, semua percikan itu cuma efek dari penampilan.
Ia sendiri heran, mengapa He Qiancheng yang sudah sekian lama bekerja di kampus belum juga menaruh hati pada Lin Chang.
He Qiancheng pun berpikir, kejadian tempo hari itu, atau sebelumnya, bisa dihitung atau tidak ya?
Memikirkan hal-hal seperti itu malah bikin pusing, jadi ia putuskan untuk membiarkan semuanya berjalan.
Tanpa terasa, kontraknya pun habis. Awalnya memang pekerjaan sementara, dan ketika He Qiancheng hendak melapor pada Lin Chang, ia malah merasa sedikit enggan berpisah.
Ia sendiri tak bisa menjelaskan, seolah-olah ia berharap Lin Chang akan menahannya, tapi tahu itu tak mungkin.
Dengan perasaan berat, ia melangkah ke kantor Ilmu Kehutanan, tapi Lin Chang tak ada di sana. Guru He yang satu kantor malah menyapanya dengan ramah, “Hei Xiao He, cari Pak Lin ya? Dia lagi ke tempat Bu Han di Fisika.”
Bu Han?
He Qiancheng merasa pernah dengar nama ini, tapi Guru He terlihat sangat maklum.
Melihat wajah bingung He Qiancheng, Guru He tertawa, “Wajar kamu enggak tahu, Bu Han Yue kemarin baru pulang dari riset di Eropa.”
“Kalau tidak, kedua guru itu memang dekat, kamu pasti sering lihat Bu Han.”
“Ngomong-ngomong, Bu Han itu benar-benar wanita pintar di Fisika, sama sekali tidak kelihatan usianya.”
Guru He sepertinya agak iri, tiba-tiba bergumam, “Sampai sekarang pun aku tak tahu umur Han Yue berapa, sekian tahun tetap saja tak tampak menua.”
He Qiancheng dalam hati terkejut, ternyata ia memang belum terlalu paham Lin Chang. Sudah lama ikut di lingkarannya, tapi tak tahu kalau Lin Chang punya teman dekat seperti itu.
Sepertinya Bu Han adalah sosok terkenal di kampus, hanya saja selama ini ia tidak ada, jadi He Qiancheng belum pernah mendengar.
Waktu itu, kata-kata Lin Chang, sebenarnya ingin ia tujukan untuk siapa?
He Qiancheng merasa ia tak punya hak untuk mengurusi urusan Lin Chang, namun tetap saja, pikirannya tak bisa berhenti memikirkan hal itu.