Ucapan Terima Kasih atas Peluncuran Buku
Berjalan di atas es tipis.
Belum lama ini, aku mengubah tanda tangan QQ-ku menjadi “berjalan di atas es tipis”.
Artinya, seseorang berjalan di atas lapisan es yang tipis dan setiap saat takut salah melangkah lalu terperosok ke bawah permukaan es, sehingga ia harus bersikap ekstra hati-hati dan waspada.
Kurang lebih begitulah keadaan hatiku saat menulis buku ini.
Ini adalah buku ketigaku tahun ini. Dua buku sebelumnya sama-sama kutinggalkan di tengah jalan karena alasan yang sangat realistis: tidak menghasilkan uang. Pada awal tahun, aku pernah menjawab sebuah pertanyaan di Zhihu: “Ingin menjadi orang seperti apa pada tahun 2017?” Jawabanku waktu itu, “Menjadi terkenal di seluruh dunia.” Namun setelah dua bukuku gagal, semangatku pun melemah. Dalam hati, jawabanku berubah menjadi: menulis sebuah buku yang setidaknya bisa menghasilkan sedikit uang.
Buku yang sekarang seharusnya memang bisa menghasilkan sedikit uang. Itulah pikiran yang kumiliki ketika pertama kali menulisnya. Namun, seiring semakin dalam aku menggarap cerita ini, pikiranku pun berubah. Sekarang, aku hanya ingin menulisnya dengan baik.
Sebab aku mulai mencintai kisah ini. Juga karena tiba-tiba banyak teman yang mulai mendukung dan mencintai kisah ini bersamaku.
Sejujurnya, mungkin inilah buku dengan jumlah pembaca terbanyak yang pernah kutulis. Perasaan ini sungguh aneh. Bayangkan, semula kau berjalan seorang diri di tengah hamparan salju dan es. Ke mana pun kau pergi, kau selalu sendirian, sampai hampir terbiasa dengan kesendirian itu. Lalu, tiba-tiba sekelompok orang muncul di sisimu dan berjalan berdampingan denganmu. Mereka menepuk bahumu sambil berkata, “Saudaraku, teruslah berjuang. Bawa kami melihat dunia yang lebih luas.”
Perasaan ini terasa begitu tidak nyata. Aku teringat novel karya Wen Rui’an yang berjudul “Pemuda Berdarah Dingin”. Tokoh pemuda berdarah dingin dalam kisah itu sangat malang—terus-menerus ditimpa kemalangan—hingga ketika keberuntungan yang sesungguhnya akhirnya datang kepadanya, ia justru sudah tidak mampu mempercayainya. Mungkin kurang lebih seperti itulah perasaanku.
Dahulu, ketika menulis buku, toh tidak banyak orang yang membaca. Aku menulis ke mana pun pikiranku membawaku, dan menulis sesukaku. Sekarang tidak bisa lagi. Aku tahu ada banyak teman yang memperhatikan buku ini dan menantikan kisahnya. Karena itu, setiap kali menorehkan kalimat, aku menjadi semakin berhati-hati. Sering kali aku harus berpikir lama hanya untuk menulis satu kalimat, takut menulisnya dengan buruk, takut kalian tidak menyukainya. Beberapa kali, aku bahkan bermimpi pada malam hari bahwa kisah ini telah kutulis hingga hancur.
Aku takut mengecewakan harapan kalian.
Rasanya seperti berjalan di tengah hamparan salju dan es sambil membawa kalian semua. Mungkin di depan sana ada dunia yang lebih luas, tetapi di bawah kaki kita terbentang es tipis. Sekali saja salah melangkah, kita semua akan terjerumus ke dalam jurang.
Tiba-tiba aku merasa beban di pundakku begitu berat. Namun, aku juga merasa bahagia, karena perasaan ini nyata, bukan sesuatu yang palsu.
Aku akan terus menjadikan kata-kata “berjalan di atas es tipis” sebagai pengingat bagi diriku sendiri: menulis buku ini dengan baik dan membawa kalian melihat dunia yang lebih luas.
Buku ini akan resmi terbit pada pukul dua belas siang nanti. Sekali lagi, aku ingin berterima kasih—kepada editor pembimbingku, Tinta Air; kepada kalian yang menyukai kisah ini.
Dan juga kepada diriku sendiri.
Terakhir, buku ini akan resmi terbit tepat pada pukul dua belas. Karena kecepatan menulisku terbatas, saat ini aku baru memiliki dua bab cadangan. Namun hari ini setidaknya akan ada lima bab baru; jika situasinya memungkinkan, mungkin akan kutambah lagi. Sampai jumpa nanti.
Sekian.
— Chen Senran
Ditulis pada siang hari, 27 Oktober 2017
Ada Anggur, Tiada Pedang