132 Yang Dinamakan Kebahagiaan
"Bum! Bum! Bum!"
Gao Lingwei bertanya dengan suara lembut, "Sakit tidak?"
"Hm... Tidak sakit, cuma agak kesemutan." Rong Taotao mendongak menatap Gao Lingwei, lalu berkata dengan suara pelan, "Coba keraskan sedikit tenagamu."
"Bum!"
Satu suara dentuman nyaring kembali bergema di lorong yang sepi, bahkan meninggalkan sisa-sisa gaung.
Gao Lingwei memegang palu di tangannya, menambahkan sedikit tenaga, dan menghantamkannya dengan kuat ke lengan bawah kanan Rong Taotao.
Lengan bawah Rong Taotao dilapisi oleh lapisan embun beku yang tipis, dan ketika dihantam palu, terdengar suara benturan logam.
"Sungguh luar biasa." Rong Taotao berjongkok di tanah, mengangkat lengannya, lalu meniup embun beku di lengan bawahnya tanpa menemukan sedikit pun bekas penyok. "Agak ngilu dan kesemutan, mungkin karena getarannya, tapi aku sama sekali tidak terluka secara nyata, sama sekali tidak sakit."
"Ini kan keterampilan roh tingkat elit, Lengan Besi Salju. Mana mungkin tidak tahan dengan hantaman palu?" Gao Lingwei yang juga berjongkok di tanah meletakkan palunya, lalu menarik tangan Rong Taotao dan mengamatinya dengan seksama.
Setelah selesai makan siang, Rong Taotao telah memasang manik roh Kera Salju Perampok yang sebelumnya diberikan oleh Gao Lingwei. Setelah naik ke tingkat Prajurit Roh, rongga roh di dahi dan siku kanannya kini sudah bisa dimanfaatkan.
Saat ini, kedua orang itu sedang mencoba keterampilan roh baru di lorong lantai.
Gao Lingwei meluruskan lengan Rong Taotao, melihatnya dari kiri dan kanan, lalu berkata, "Kau harus lebih berhati-hati kedepannya. Sebaiknya gunakan bagian lengan bawah untuk menangkis serangan musuh. Bagian tubuhmu yang lain semuanya adalah daging biasa, jangan sampai telapak tanganmu putus ditebas orang."
"Baik, baik." Rong Taotao mengangguk berulang-ulang. Lapisan embun beku dari Lengan Besi Salju ini hanya sepanjang itu, mulai dari sendi siku hingga pergelangan tangan.
Telapak tangan serta bagian di atas sendi sukunya sama sekali tidak dilapisi embun beku.
"Saljunya tipis sekali ya, kukira aku akan diberi baju besi pertahanan yang tebal," kata Rong Taotao sambil tersenyum.
"Hm, kurasa total volume saljunya seharusnya cukup besar, hanya saja ditekan hingga ke tingkat maksimal. Coba ayunkan tanganmu dan rasakan, apakah terasa berat?" ucap Gao Lingwei. Tiba-tiba, pintu di belakang mereka terbuka.
Rong Yang menjulurkan kepalanya dan melihat dua anak muda sedang berjongkok di tanah meneliti "mainan baru". Mau tidak mau ia tersenyum dan berkata, "Bagaimana? Pemasangannya berhasil?"
"Berhasil!" Rong Taotao mengangkat lengannya dan menggoyangkannya untuk menunjukkannya kepada Rong Yang.
Hm, lengannya tidak terlalu berat. Sekalipun rasanya seperti mengenakan "pelindung lengan baja", bahannya tergolong sangat ringan.
"Ayo masuk, pasang juga manik roh di bagian dahimu," kata Rong Yang sambil membuka pintu dan menyuruh keduanya masuk.
Rong Taotao langsung bangkit berdiri. Lapisan embun beku di lengan bawah kanannya seketika pecah dan berjatuhan.
Gao Lingwei memegang palu, berdiri, dan mengikuti Rong Taotao masuk ke dalam rumah. Ia melihat Rong Yang menyerahkan sebuah manik bintang kepada Rong Taotao, dan setelah itu... Rong Taotao berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sama sekali.
"Ada apa?" Gao Lingwei melangkah maju, berdiri di belakangnya, lalu menjulurkan kepalanya melewati bahu Rong Taotao untuk melihat benda di tangan pemuda itu dengan penasaran.
"Ah, ti... tidak apa-apa, bentuk manik roh ini ajaib sekali," ucap Rong Taotao asal-asalan untuk mengalihkan keadaan.
Faktanya, saat itu ia sedang membaca informasi yang dikirimkan oleh Peta Jiwa Penglihatan Batin.
"Manik roh ditemukan: Alam Salju - Orang Bijak Salju Pinus (Tingkat Elit, Nilai Potensi: -)
Keterampilan roh manik:
1. Kesunyian Salju Pinus: Menggunakan kekuatan roh beratribut es dan salju untuk merangsang bagian kepala, memancarkan kemampuan mental khusus yang terhubung dengan mental target. (Tingkat Elit, Nilai Potensi: -)
Apakah ingin menyerapnya?"
Kesunyian Salju Pinus? Namanya cukup menarik juga, ya?
Ekspresi Rong Taotao tampak aneh. Manik roh ini juga berbeda dari semua manik roh yang pernah ia lihat sebelumnya.
Manik roh ini berbentuk bola salju seukuran kelereng kaca, di dalamnya bahkan tercampur beberapa jarum daun pinus, sama sekali tidak mirip dengan bentuk manik roh pada umumnya.
Sambil memegang manik roh yang ajaib itu, Rong Taotao mengganti sandal lalu melangkah masuk ke ruang tamu.
"Seraplah. Waktu di perjalanan tadi, aku sudah menghancurkan manik roh yang ada di dahiku sebelumnya dan memasang manik roh Orang Bijak Salju Pinus ini," kata Rong Yang.
Rong Taotao langsung mengangguk. Sementara itu, Gao Lingwei yang duduk di sofa di sampingnya menunjukkan ekspresi yang agak rumit, diam-diam memperhatikan kedua saudara di hadapannya itu.
Rong Taotao menempelkan manik roh Orang Bijak Salju Pinus ke dahinya. Seketika itu juga, bola salju kecil tersebut hancur, dan gelombang kekuatan roh yang pekat meresap ke dalam dahi Rong Taotao.
"Wah!" Rong Taotao tertegun sejenak dengan mulut menganga. Ia menunduk menatap kedua tangannya sendiri, merasa seolah-olah ada hal yang sulit dipercaya.
Di sampingnya, Rong Yang tiba-tiba mengangkat tangan dan menutupi mulutnya.
Pada saat yang sama, Rong Taotao juga mengangkat telapak tangannya untuk menutupi mulutnya sendiri.
Rong Taotao: ???
"Lumayanlah, bagaimanapun kita adik kakak kandung, dia tidak punya kewaspadaan terhadapku," ucap Rong Yang sambil menurunkan tangannya dan tersenyum.
"Apa maksudnya? Kau baru saja mengendalikan tanganku?" Rong Taotao menoleh menatap Rong Yang.
"Iya," jawab Rong Yang sambil mengangguk pelan. "Setiap manusia pasti memiliki kewaspadaan terhadap orang lain, terutama kita para ahli bela diri roh.
Karena aku bisa memengaruhi gerakan tubuhmu, ini juga membuktikan kepercayaanmu padaku."
"Jangan memuji diri sendiri begitu dong~ Aku tadi hanya belum sempat bereaksi." Rong Taotao memanyunkan bibirnya lalu mengalihkan pembicaraan, "Penglihatan Da Wei yang terhubung dengan Kucing Bulu Salju pasti gambarnya seperti ini juga, ya?"
Rong Yang mengangguk dan berkata, "Benar. Tapi kondisi seperti ini hanya ada di antara saudara kandung, seperti teman sekelasmu Shi Lou dan Shi Lan.
Jika ahli bela diri roh lain yang memasang manik roh ini, mereka tidak akan bisa membagikan sudut pandang orang lain melalui keterampilan roh ini."
Rong Taotao mengangguk sambil berpikir. Memang benar, deskripsi keterampilan roh ini sangat sederhana, yaitu sekadar terhubung secara mental dengan target.
Berbagai operasi tambahan antara Rong Yang dan Rong Taotao saat ini sepertinya merupakan fasilitas khusus antara saudara kandung.
Sambil berpikir dalam diam, Rong Taotao tiba-tiba merasa pemandangan di depannya berkelebat, hingga yang tersisa hanya bidang penglihatannya sendiri.
Di sampingnya, Rong Yang berkata, "Dalam kondisi hubungan mental yang sengaja kita bangun, efek seperti ini akan terjadi. Jika salah satu pihak tidak ingin menerima sinyal lagi, cukup dengan menggerakkan niat di dalam hati, maka keadaan normal bisa dipulihkan.
Jika ingin terhubung kembali, bisa kapan saja asalkan kedua belah pihak setuju, dan tidak dibatasi oleh jarak.
Bagaimana? Apakah jauh lebih berguna daripada yang namanya telepon satelit?"
"Dunia ini benar-benar ajaib..." Rong Taotao mengangguk berulang-ulang sambil berdecak kagum, namun di dalam kepalanya ia mulai memikirkan trik-trik licik lagi. "Kubilang, keterampilan roh ini benar-benar alat curang yang luar biasa!"
"Berani coba-coba kamu!" Di samping, Yang Chunxi memasang ekspresi galak, meski itu tidak bertahan lama sebelum akhirnya ia menatap Rong Taotao dengan jengkel sambil tersenyum.
"Ehem." Rong Taotao dengan canggung menggaruk kepalanya, lalu langsung menggunakan kekuatan mental untuk berkomunikasi dengan Rong Yang: 'Nanti kalau ujian, aku serahkan kendalinya padamu. Kau kendalikan tubuhku untuk membantuku mengerjakan soal, rasanya pasti luar biasa nyaman!'
"Heh, mimpimu terlalu indah." Rong Yang tertawa geli sambil mencibir, lalu berkata, "Pejamkan matamu, sekarang gunakan sudut pandangku."
"Baik." Rong Taotao memejamkan matanya, merasakan sensasi aneh seolah jiwa keluar dari raga. Melalui mata sang kakak, Rong Yang, ia melihat dirinya sendiri.
Tiba-tiba Rong Yang berkata, "Bidang penglihatanku terbatas. Meskipun banyak pemandangan yang masuk ke mataku, fokus pandanganku hanya pada satu benda tertentu, contohnya, saat ini aku sedang melihat wajahmu."
"Hm." Rong Taotao mengangguk dengan mata terpejam. Di dalam bidang penglihatan yang dibagikan itu, sang kakak memang sedang melihat wajahnya.
Rong Yang melanjutkan, "Tetapi informasi yang terekam oleh mataku sebenarnya sangat banyak, hanya saja aku secara naluriah mengabaikan beberapa pemandangan tertentu."
Rong Taotao sedikit mengernyit, seketika memahami maksud Rong Yang.
Berbagi sudut pandang... ternyata bukan berarti berbagi fokus pandangan!?
Rong Taotao mencoba melirik ke arah samping, jantungnya mendadak berdegup kencang!
Hal-hal yang terlihat dari ekor mata Rong Yang, segala detail kecil yang diabaikan... Singkatnya, semua pemandangan yang tertangkap oleh mata sang kakak bisa dilihat dengan sangat jelas oleh Rong Taotao.
Rong Taotao yang bagaikan keluar dari raga awalnya berdiri di posisi sang kakak, namun saat itu ia seolah-olah berjalan keluar dari tubuh Rong Yang dan menoleh ke belakang.
Bagian belakang adalah kekosongan, itulah titik buta dalam penglihatan Rong Yang.
"Bagaimana cara mengendalikan tubuhmu?" tanya Rong Taotao.
"Kita harus bekerja sama. Kau memicu keterampilan roh, memperkuat tingkat hubungan mental kita, lalu aku melepaskan kewaspadaan dan membiarkanmu..." Belum sempat Rong Yang menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mengangkat tangannya, mengusap rambut cepak di kepalanya sendiri, dan menampilkan senyuman polos di wajahnya.
Yang Chunxi yang duduk di sofa menepuk jidatnya dengan ekspresi pasrah. Kekasihnya yang tinggi dan tampan itu ternyata sama sekali tidak cocok memasang ekspresi polos seperti itu...
"Rong Yang" berkata, "Eh, Kak, rambut cepakmu ini lumayan juga ya teksturnya?"
"Huh..." Rong Taotao yang duduk di sofa menarik napas dingin, lalu membuka matanya lebar-lebar.
Tidak jauh di depannya, Rong Yang yang telah mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya menatap Rong Taotao dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
Namun Rong Taotao sama sekali tidak merasa takut, ia justru bangkit berdiri dengan penuh semangat. "Kak, kau kan sudah tingkat Sekolah Roh? Bisakah aku menggunakan tubuhmu untuk merasakan pengalaman menjadi Sekolah Roh lebih awal?"
Sudut bibir Rong Yang berkedut canggung...
Merasa... merasakan lebih awal?
"Ada kemungkinan untuk melakukannya tidak?" tanya Rong Taotao penuh harap.
"Cadangan pengetahuanmu belum cukup, tingkat batinmu juga belum sampai, untuk sementara kau belum bisa mengendalikan level Sekolah Roh," jawab Rong Yang ketus.
"Ajari aku! Tubuh Sekolah Roh milikmu ini kan hebat sekali, fasilitas perangkat keras kita sudah cukup, kau tinggal melengkapi fasilitas perangkat lunaknya di dalam kepalaku, kita... Eh, jangan pukul, aduh... Kakak Ipar, dia memukuliku, kenapa kau tidak melerainya..."
Seketika itu pula, suasana rumah menjadi ricuh.
Rong Yang yang biasanya berwatak lembut akhirnya tidak tahan lagi...
Yang Chunxi menyaksikan pemandangan itu dengan senyuman di wajahnya. Sudah lama ia tidak melihat Rong Yang melampiaskan emosi seperti itu. Hari-hari biasanya ia selalu tampil tenang dan mantap, hari ini akhirnya ia menunjukkan sedikit bara amarah.
Namun kebahagiaan seperti itu hanya milik tiga orang, dan tidak termasuk pemilik rumah ini.
Gao Lingwei menggigit bibirnya, berusaha agar tidak terlihat terlalu kecewa, tetapi di dalam hatinya ia merasa sedikit sedih.
Ia juga salah satu dari anak kembar.
Semua ini, seharusnya ia miliki juga.
Ia seharusnya bisa terhubung secara mental dengan sang kakak, menikmati perhatian dan bimbingan darinya.
Ia seharusnya bisa saling menemani dan tumbuh bersama sang kakak, berbagi rahasia hati, bahkan mengobrol santai di balik selimut di malam hari tentang apa saja yang terjadi di sekolah hari ini.
Namun, ia tidak punya apa-apa.
Demi adiknya sendiri, Rong Yang bahkan menghancurkan manik roh mental berkualitas tinggi miliknya, dan memilih memasang manik roh berkualitas rendah yang sejenis dengan adiknya, semata-mata untuk melindungi Rong Taotao dan menemaninya di sisi pemuda itu.
Sebaliknya, kakaknya sendiri justru menjadi seorang kriminal, bahkan mengacaukan batinnya, merusak sarafnya yang rapuh, dan menginjak-injak harga dirinya sekali demi sekali.
Di ruang tamu, kedua saudara yang tadi saling berkejaran akhirnya berhenti. Yang Chunxi sangat peka dan menyadari ekspresi suram Gao Lingwei. Setelah berpikir sejenak, ia mengerti apa yang terjadi, dan dalam hatinya ia hanya bisa menghela napas.
Yang Chunxi berbalik, sedikit memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat kecil, memberi isyarat ke arah tempat Gao Lingwei berada.
Rong Taotao tertegun sejenak, lalu menyadari sesuatu. Ia merapikan rambut ikalnya yang sudah berantakan seperti sarang burung, lalu dengan cepat berjalan ke hadapan sofa dan menunduk menatap Gao Lingwei yang terdiam membisu.
Rong Taotao langsung berkata, "Ayo, Da Wei, kita pergi jalan-jalan keluar. Hari cepat gelap, sepertinya pasar malam sebentar lagi sudah buka, kan?"
Dalam lamunannya, Gao Lingwei tersadar kembali dan melihat senyuman di wajah Rong Taotao.
Ia ragu sejenak lalu berkata, "Sebaiknya kau selesaikan dulu pembelajaran sisa keterampilan rohmu. Tadi kau hanya sibuk makan siang dan belum sempat belajar keterampilan roh."
"Ah! Masih banyak waktu untuk belajar keterampilan roh." Rong Taotao melambaikan tangannya dengan gaya gagah berani, sementara telapak tangannya mendarat di tangan Gao Lingwei, langsung menarik gadis itu berdiri dari sofa. "Ayo, kita jalan-jalan. Mumpung lagi tahun baru, aktivitas sore hari pasti tidak sedikit, kan?"
"Hm, lumayan banyak sih," jawab Gao Lingwei pelan sambil mengangguk.
"Ayo, ayo, ayo~ Jalan-jalan."
"Iya, iya, pelan-pelan, aku pakai sepatu dulu..."