Bab 31: Menantang Kekaisaran Qian Agung
Halaman 1/3
Segala sesuatu yang dilakukan Jiang Syuo terlihat jelas oleh pangeran kedua.
Namun, ia tidak berusaha mencegahnya. Sebaliknya, ia hanya menyunggingkan seringai dingin.
Perbuatan Jiang Syuo memang tampak memuaskan dan seolah-olah telah melampiaskan kekesalan Da Qian. Akan tetapi, bagaimana mungkin hubungan antarnegara diatur hanya berdasarkan rasa puas sesaat?
Hmph! Kakaknya itu ternyata masih terlalu naif. Tak disangka, secepat ini ia sudah memberi dirinya celah untuk menyerang.
Kali ini ia ingin melihat bagaimana Jiang Syuo akan menghadapi masalah tersebut.
……
Di istana kekaisaran, Kaisar memimpin para pejabat mengadakan jamuan malam untuk menyambut para utusan Goguryeo.
Namun, saat mereka masuk, semua orang terperangah.
Para utusan Goguryeo itu satu per satu tampak babak belur. Wajah dan tubuh mereka dipenuhi noda darah.
Mereka semua memasang wajah muram. Pemimpin rombongan berkata dengan dingin, “Hmph, sudah lama kudengar bahwa Da Qian adalah negeri yang menjunjung tinggi tata krama. Hari ini, kalian benar-benar membuka mata kami.”
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Kaisar Da Qian bertanya dengan suara dingin. Seorang utusan dari suatu negeri telah dipukuli habis-habisan di wilayah Da Qian. Yang tercoreng bukan hanya wajah mereka, melainkan martabat seluruh negeri Da Qian.
Jika negeri-negeri bawahan lainnya sampai membicarakannya, mereka akan mengatakan bahwa Da Qian menindas yang lemah dan sama sekali tidak menghormati negeri-negeri kecil. Jika masalah ini terus berkembang, akibatnya tak terbayangkan.
Pangeran kedua tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera melangkah maju.
“Yang Mulia, semua ini dilakukan oleh Kakanda.”
“Hamba melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ia menerjang kereta para utusan dan menghajar mereka.”
“Bahkan pasukan penjaga kota milik hamba pun tidak mampu menghentikannya.”
Wajah Kaisar seketika menjadi semakin muram. Ia tidak menyangka bahwa semua ini ternyata dilakukan oleh Jiang Syuo.
Padahal, dengan susah payah ia mulai mengubah pandangannya terhadap Jiang Syuo, bahkan sempat berpikir untuk membinanya dengan baik.
Namun, ternyata anak itu begitu tidak dewasa. Bagaimana mungkin urusan antarnegara diselesaikan dengan adu tinju dan tendangan? Sungguh tidak pantas!
Jiang Syuo langsung berdiri.
“Benar! Akulah yang memukul mereka!”
Jiang Syuo mengangkat selebaran yang disebarkan para utusan Goguryeo di Shengjing.
“Silakan kalian semua melihatnya. Menurut kalian, apakah isi tulisan ini pantas dipukul atau tidak?”
Selebaran itu berpindah dari tangan ke tangan di antara para pejabat dan Kaisar. Setiap orang yang membacanya langsung berubah muram.
Bahkan beberapa pejabat yang biasanya sangat tenang mulai bergumam pelan.
“Ini sungguh keterlaluan. Siapa sangka Goguryeo bisa sebegitu tak tahu malu.”
“Hmph! Semua itu adalah milik Da Qian. Bagaimana mungkin mereka mengakuinya sebagai milik sendiri?”
“Benar-benar tak tahu malu! Bukan hanya mengakuinya sebagai milik mereka, mereka bahkan mengatakan bahwa Da Qian bisa menikmati semua itu berkat kemurahan Goguryeo.”
“Kalau tidak dipukul, rasanya memang tidak lega. Kali ini, tindakan Pangeran Pertama benar-benar tepat.”
“Namun, Da Qian adalah negeri yang menjunjung kesopanan. Tindakan seperti ini tetap saja melanggar tata krama.”
Halaman 1/3
Halaman 2/3
“Mereka sudah menindas kita sampai ke depan pintu rumah. Masih mau bicara soal tata krama? Seharusnya kita menghajar mereka sampai menangis memanggil ibu!”
……
Walaupun sebagian besar orang yang hadir adalah pendukung pangeran kedua, saat melihat selebaran itu, mereka semua tetap terbakar amarah. Mereka sepakat bahwa Goguryeo benar-benar tak tahu malu.
Mereka memutarbalikkan fakta, menambahkan bumbu pada sejarah yang sebenarnya merupakan milik Da Qian, lalu dengan paksa mengklaimnya sebagai bagian dari sejarah mereka sendiri.
Wajah Kaisar pun tampak sangat muram. Ia berkata dengan dingin, “Para utusan, kalian harus memberi penjelasan kepada kami.”
Namun, di hadapan Kaisar Da Qian, utusan Goguryeo itu sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat. Ia malah menjawab dengan angkuh.
“Seperti yang telah Paduka lihat, semua ini memang merupakan milik Goguryeo.”
“Kami hanya ingin mempromosikan kebudayaan kami sendiri. Apa yang salah dengan itu?”
“Sebaliknya, kami justru dipukuli oleh pangeran dari negeri Paduka. Seharusnya Paduka yang memberi kami penjelasan.”
Sebagai utusan sebuah negeri bawahan, bersikap sedemikian angkuh di hadapan Kaisar negeri penguasa merupakan pelanggaran besar.
Suasana telah menegang seperti busur yang ditarik penuh, dan sewaktu-waktu dapat meledak.
Jiang Syuo sedikit mengernyit. Ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Dahulu, para utusan Goguryeo juga pernah datang ke Shengjing untuk menghadap Kaisar negeri penguasa. Namun, setiap kali itu terjadi, mereka selalu menunjukkan sikap yang sangat hormat.
Kali ini, mereka bukan hanya gencar menyebarkan propaganda di ibu kota, tetapi bahkan berani berhadapan langsung dengan Kaisar Da Qian.
Di masa lalu, hal seperti ini sama sekali mustahil terjadi.
Jika bukan karena mereka sudah kehilangan akal, berarti mereka pasti memiliki sandaran lain.
Jiang Syuo merenung sejenak, lalu memilih untuk mengamati perkembangan keadaan.
Pangeran kedua maju untuk mencairkan suasana.
“Para utusan, ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Aku akan bersulang atas nama Kakanda sebagai permintaan maaf.”
Setelah berkata demikian, ia menenggak habis arak di dalam cawannya.
Tatapan Jiang Syuo mengeras.
Hmph, adiknya yang satu ini benar-benar bodoh.
Jangan-jangan ia sungguh mengira dirinya mampu menyelamatkan keadaan?
Ia bahkan belum memahami betapa dalamnya air yang sedang mereka hadapi.
Namun, setelah pangeran kedua angkat bicara, para pejabat bahkan Kaisar pun tidak leluasa mengatakan apa-apa lagi di hadapan orang luar.
Hanya saja, hati mereka semua tetap dipenuhi kejengkelan.
Bagaimanapun juga, Jiang Syuo tetap merupakan pangeran Da Qian.
Meminta maaf atas nama Pangeran Pertama sama saja dengan mengakui kelemahan di hadapan Goguryeo. Padahal, dalam masalah ini, pihak yang sudah bertindak keterlaluan justru adalah Goguryeo.
Setelah persoalan itu dianggap selesai, para utusan Goguryeo pun mulai menyerahkan upeti kepada istana kekaisaran Da Qian.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
“Atas nama Raja Goguryeo, hamba mempersembahkan sebatang ginseng berusia seratus tahun kepada Kaisar Da Qian.”
“Sejoli tanduk rusa muda.”
Di dalam dua nampan itu masing-masing terdapat ginseng dan tanduk rusa muda. Namun, kualitas keduanya sangat buruk. Bahkan, benda-benda itu sama sekali tidak layak dibawa masuk ke istana, apalagi dijadikan upeti.
Jelas sekali, kedatangan Goguryeo kali ini adalah untuk mencari gara-gara.
Kaisar memasang wajah muram dan menahan amarahnya agar tidak meledak.
“Utusan, apa maksud semua ini?”
Utusan Goguryeo itu justru tertawa.
“Wilayah Goguryeo sempit dan penduduknya sedikit. Belakangan ini, kami juga dilanda bencana besar.”
“Ginseng berusia seratus tahun dan tanduk rusa berharga ini dikumpulkan oleh rakyat Goguryeo dengan berhemat serta menahan lapar.”
“Demi menghargai ketulusan hati kami, kami memohon Kaisar Da Qian menganugerahkan seratus ribu pikulan bahan pangan, lima juta tahil perak, seribu ekor sapi pembajak, dan tiga ribu ekor kuda perang.”
Gila!
Mereka benar-benar sudah gila!
Pada saat itu, tak seorang pun mampu tetap duduk tenang.
Dengan tuntutan semacam itu, para utusan Goguryeo jelas sudah kehilangan akal.
Bahkan, mereka seolah-olah sudah tidak peduli pada keselamatan hidup mereka sendiri.
“Kalian tahu apa yang sedang kalian katakan?”
Kaisar telah murka hingga matanya melotot dan giginya bergemeletuk. Seandainya ia tidak memiliki ketenangan seorang penguasa yang telah lama menduduki takhta, amarahnya pasti sudah meledak saat itu juga.
Namun, sang utusan hanya mencibir.
“Kami semula mengira Da Qian adalah negeri yang makmur, sehingga semua ini tidak berarti apa-apa bagi kalian.”
“Namun, sekarang tampaknya tidak demikian. Jika Da Qian tidak bersedia memberikan apa yang kami minta, Goguryeo tidak akan lagi mengakui Da Qian sebagai negeri penguasa.”
Li Línfang, yang selama ini dikenal penuh perhitungan, bahkan tidak mampu menahan diri untuk berdiri.
“Kalian tidak takut Da Qian mengerahkan pasukan untuk menyerang Goguryeo?”
Utusan Goguryeo itu tertawa.
“Kalian bahkan tidak punya waktu untuk menghadapi kaum Xiongnu. Dari mana kalian memiliki kekuatan untuk menyerang Goguryeo?”
Mendengar ucapan itu, Jiang Syuo akhirnya memahami semuanya.
Pantas saja sebuah negeri kecil seperti Goguryeo berani bertindak begitu lancang di hadapan Da Qian.
Tampaknya mereka telah lama menjalin persekutuan dengan kaum Xiongnu.
Bahkan, mereka mungkin sedang menunggu kesempatan untuk menyerang Da Qian bersama-sama.
Kedatangan mereka kali ini sama sekali bukan untuk memberikan upeti.
Ini adalah provokasi terang-terangan.
Halaman 3/3