Bab Lima Puluh Empat: Melepaskan atau Mengatakan?
Zhu Yihuan berjongkok di dekat "Meiniang" dan berbisik lembut, "Nona, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, tentang dirimu, dan tentang Paviliun Qihuo."
"Kau tidak perlu bersikap seolah-olah siap menghadapi kematian dengan gagah berani. Aku sungguh orang baik, jika kau bekerja sama dengan baik, kau tidak akan terluka."
Setelah berkata demikian, Zhu Yihuan menatap "Meiniang" yang tergeletak di tanah.
Meiniang tetap bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Namun, Zhu Yihuan dapat melihat bahwa Meiniang, yang memejamkan mata itu, sedang dilanda kepanikan yang luar biasa.
Setiap kali anjing Kaukasia yang menindihnya bergerak sedikit saja, tubuh kaku wanita itu ikut bergetar halus.
Melihat hal tersebut, Zhu Yihuan tersenyum tipis. Menembus pertahanan mental seperti ini sungguh sangat mudah.
Zhu Yihuan perlahan bangkit berdiri lalu menghela napas:
"Namun, jika kau tidak mau bekerja sama, aku terpaksa harus bersikap kasar kepada Nona."
"Entah apakah Nona masih seorang gadis suci atau bukan."
"Jika iya, sungguh sangat disayangkan."
"Di siang bolong seperti ini, seandainya ada orang lain yang melihat..."
Sambil berbicara, Zhu Yihuan mengamati reaksi "Meiniang" yang terbaring di tanah.
Benar saja, meskipun Meiniang masih memejamkan mata rapat-rapat, kening dan alisnya berkerut menunjukkan ketegangan yang tak mampu ia kendalikan.
Melihat itu, Zhu Yihuan sengaja menghela napas panjang: "Aduh, sepertinya Nona memang tidak mau bekerja sama. Kalau begitu, nikmati saja."
Sementara itu, Ma Shu yang berdiri di samping, mendengar pangeran mudanya mengucapkan kata-kata tersebut, tak kuasa merasa kagum dalam hati:
"Pangeran kita benar-benar semakin hebat. Dulu, dia bahkan akan langsung blushing sekadar berbicara dengan Meiniang, tapi sekarang dia sudah berani mengggodanya."
"Ma Shu!"
Tiba-tiba, Zhu Yihuan memanggil nama Ma Shu.
"Pangeran Muda, saya ada di sini."
Ma Shu yang sedang melamun menjawab secara refleks.
Ma Shu bertanya dengan suara pelan: "Pangeran Muda, apakah Anda ingin saya dan si pria hitam menjaga ujung gang agar tidak ada orang yang masuk untuk melihat?"
Ma Shu berkata demi kebaikan Zhu Yihuan.
Tanpa diduga, Zhu Yihuan menarik anjing Kaukasia itu menjauh, berjalan menghampiri Ma Shu, dan berkata dengan sengaja kepada Meiniang: "Kau, pergilah dan tiduri wanita yang ada di tanah itu."
"Siapa?"
Ma Shu memasang ekspresi bingung: "Saya?"
Zhu Yihuan berkata: "Kenapa? Gadis cantik seperti ini tidak selera di matamu?"
Ma Shu tampak ketakutan: "Tapi, Pangeran Muda, saya ini se..."
Begitu sampai di kata itu, Ma Shu langsung mengerem ucapannya. Ia merasa agak malu mengaku sebagai seorang eunuch di siang bolong.
"Eunuch apa, suruh pergi ya pergi!"
Zhu Yihuan menendang Ma Shu hingga jatuh tepat di samping Meiniang.
Ma Shu yang ditendang terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur di sisi Meiniang.
"Pangeran Muda..."
Ma Shu berkata dengan cemas dari tanah: "Bagaimana... bagaimana cara saya menidurinya?"
Zhu Yihuan sengaja mengeraskan suaranya: "Ya ditiduri seperti biasa! Lepaskan pakaiannya, lalu lepaskan pakaianmu."
"Lepaskan!"
Atas perintah Zhu Yihuan, dengan enggan Ma Shu mengangkat jarinya membentuk gestur kemayu dan mengulurkan tangannya ke arah Meiniang.
Seketika tangan Ma Shu menyentuhnya, Meiniang menunjukkan reaksi jijik yang amat sangat.
Ketika Ma Shu mulai melucuti pakaian luar wanita itu dan hendak melanjutkan lebih jauh, Meiniang akhirnya tidak dapat menahan diri lagi dan mendorong Ma Shu menjauh.
Tak lama kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ma Shu.
Ma Shu yang kebingungan memegang pipinya, menoleh kepada Zhu Yihuan dan bertanya: "Pangeran Muda, apakah masih harus dilanjutkan?"
Sudut bibir Zhu Yihuan terangkat. Ia dengan sigap mencabut pedang yang terselip di pinggang Jameson, lalu melangkah mendekati Meiniang yang pakaian luarnya sudah sedikit terbuka.
Bilah pedang yang tajam itu diletakkan di atas bahu mulus Meiniang, ujungnya menempel lembut di leher wanita itu:
"Hal ini harus ditanyakan padanya. Jika dia bersedia buka mulut, maka pakaiannya tidak perlu dilepas."
Zhu Yihuan bertanya: "Mau dilepas, atau mau bicara?"
Meiniang menatap pakaian luarnya yang telah terbuka, lalu beralih memandang Ma Shu yang berwajah mesum. Sebutir air mata mengalir dari sudut matanya.
"Aku akan bicara..." ucap Meiniang dengan nada putus asa.
Zhu Yihuan terkekeh pelan: "Kalian ini ternyata menjunjung tinggi kehormatan juga ya."
"Ternyata bukan orang yang benar-benar tangguh, tapi sok-sokan jadi pembunuh bayaran."
Zhu Yihuan berkata kepada Ma Shu: "Cari seutas tali, buat simpul mati, ikat tangan dan kaki wanita ini. Cari sebuah karung goni, masukkan dia ke dalamnya, lalu bawa kembali ke kediaman dan kurung di kamarku. Kau dan Jameson jaga pintunya baik-baik. Tunggu aku kembali dari kediaman Keluarga Gao, aku akan menginterogasinya secara mendetail."
Mendengar bahwa Zhu Yihuan berniat memasukkannya ke dalam karung goni, Meiniang buru-buru berkata: "Aku bisa berjalan sendiri, aku tidak akan kabur, aku tidak mau dimasukkan ke dalam karung."
Zhu Yihuan tersenyum kecil: "Aku bukan khawatir kau kabur, aku hanya harus menjaga reputasiku."
"Jika terlihat oleh kenalan, betapa tidak enak dipandang."
"..."
Di sebuah gang di ibu kota, di sudut yang luput dari pandangan siapa pun, Meiniang akhirnya dimasukkan ke dalam karung goni.
Sesaat kemudian, muncullah dua kelompok orang dari gang tersebut.
Kelompok pertama adalah Jameson dan Ma Shu yang memanggul karung goni, berjalan menuju Kediaman Pangeran Zhu Hegui.
Kelompok kedua adalah Zhu Yihuan, yang menuntun anjing Kaukasia melanjutkan perjalanan ke Kediaman Gao.
Zhu Yihuan merasa sangat bersemangat. Dengan tertangkapnya Meiniang, banyak hal tidak perlu lagi ditebak-nebak.
Misalnya, perintah apa sebenarnya yang diberikan Paviliun Qihuo kepada Meiniang saat itu? Apakah itu pembunuhan yang sesungguhnya atau sekadar jebakan untuk memfitnah? Apakah setelah percobaan pembunuhan tempo hari, masih ada rencana pembunuhan lanjutan yang disiapkan?
Misalnya lagi, mengapa mereka begitu bertekad harus membunuh Meiniang?
Mereka berdua begitu mirip, pastilah mereka saudara kembar. Sebagai saudari kandung, bagaimana mungkin ia tega melakukannya?
Terakhir, sebagai bagian dari Paviliun Qihuo, seberapa besar sebenarnya pengaruh organisasi itu? Teknologi tidak biasa apa saja yang telah mereka kuasai?
Lebih bagus lagi jika bisa mengetahui identitas bos Paviliun Qihuo, yakni pejabat tinggi yang berani membentak Kaisar sepuh.
Siapa sebenarnya orang itu, dan mengapa dia berani berselisih dengan sang Kaisar sepuh?
Sambil menuntun anjing dan merenungkan apa saja yang harus ditanyakan setibanya di kediaman nanti, Zhu Yihuan berjalan santai hingga tiba di depan gerbang Kediaman Gao.
"Keluarga Gao dengan hormat menyambut Pangeran Muda."
Zhu Yihuan bahkan belum menyadari bahwa dirinya telah tiba di depan gerbang Keluarga Gao.
Suara penyambutan dari para pelayan Keluarga Gao yang telah lama menanti di luar gerbanglah yang menarik kesadarannya kembali.
Para pelayan Keluarga Gao dengan antusias maju membungkuk menyambut kedatangan Zhu Yihuan: "Pangeran Muda, Tuan Besar Gao sedang menunggu Anda di halaman belakang. Beliau berpesan agar jika Anda telah tiba, saya diperintahkan untuk mengantar Anda ke halaman belakang terlebih dahulu untuk melihat Kuda Ajaib."
Zhu Yihuan mengangguk, lalu mengikuti pelayan Keluarga Gao berjalan menuju halaman belakang.
Ia melangkah menyusuri kompleks Kediaman Gao di bawah bimbingan sang pelayan. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Kediaman Gao. Meskipun letak geografis Kediaman Gao tidak dapat menandingi kediaman pangerannya sendiri, kemewahan tempat itu tetap membuat Zhu Yihuan menghela napas kagum dalam hati.
Ada sebuah ungkapan di masa depan: "Kemewahan gaya Tiongkok adalah kemewahan yang sesungguhnya."
Dan Kediaman Gao ini memancarkan nuansa kemewahan klasik Tiongkok yang sangat kental dari luar hingga ke dalam. Ini bukanlah gaya dekorasi Tiongkok modern atau semi-modern ala rumah biasa di masa depan.
Ini adalah kemewahan gaya Tiongkok yang sejati, sarat akan detail tata letak dan keselarasan estetika.
Mungkin hanya di bawah pemerintahan Kaisar sepuh situasi seperti ini bisa terjadi, di mana kediaman seorang pangeran kalah megah dibandingkan kediaman seorang saudagar.
"Pangeran Muda, kita sudah sampai."
Pelayan tersebut tiba di pintu halaman belakang.
Zhu Yihuan melihat ke arah dalam. Halaman belakang Kediaman Gao ternyata sangat luas. Tuan Besar Gao saat ini sedang berdiri di samping seekor kuda, mengelus-ngelus bulu hewan tersebut.
Zhu Yihuan melangkah masuk ke halaman belakang.
"Paman."
Zhu Yihuan memberi hormat dengan mengepalkan tangan.
Gao Muyran, yang tadinya sedang merapikan bulu kuda, menoleh dan menyambut kedatangan Zhu Yihuan dengan wajah penuh suka cita: "Wahai menantuku, kau akhirnya datang juga."
Dengan penuh antusias, Gao Muyran menepuk-nepuk kepala kuda itu seraya memperkenalkannya kepada Zhu Yihuan:
"Menantuku, lihatlah. Inilah Kuda Ajaib yang baru kudapatkan belakangan ini. Selama bertahun-tahun hidup, ini adalah pertama kalinya aku melihat kuda yang begitu istimewa. Aku berpikir kuda ajaib ini akan menjadi sia-sia jika tetap berada di tanganku, makanya aku memanggilmu kemari. Jika menantu menyukainya, hari ini juga kuda ini bisa kau bawa pulang."
Zhu Yihuan mengalihkan pandangannya ke arah kuda ajaib yang diperkenalkan oleh Gao Muyran itu.
Kuda tersebut tidak tinggi, tidak kekar, dan bukanlah ras langka; ia hanyalah jenis kuda biasa yang dapat ditemui di mana saja di wilayah Da Ming.
Lalu, di manakah letak keajaiban kuda ini?