Bab 074: Tuan Sejarah Pun Tak Bisa Diandalkan
Ketika Liu Xiu kembali ke dalam kota perbatasan, ia tepat melihat kereta kuda yang dilapisi tirai biru itu melaju keluar dari Gerbang Juyong. Tirai kereta tersibak sedikit, pria paruh baya di dalamnya menatapnya sambil mengangguk dan tersenyum ramah. Liu Xiu buru-buru membalas hormat dengan kaku, namun ia tak melihat sosok gadis berbaju hijau itu. Mungkin ia juga ada di dalam kereta, hanya saja tidak berpamitan dengannya.
Liu Xiu memutar-mutar ujung jarinya, teringat kembali saat gadis itu menuntunnya berjalan. Saat itu seluruh perhatiannya tersedot pada keajaiban bagaimana gadis itu bisa membawanya melangkah dengan begitu ringan, sampai-sampai ia tak sadar akan sensasi tangan lembut yang menggenggam jemarinya. Sekarang, ia pun tak bisa mengingatnya lagi.
Gadis itu muda, cantik, dan sedikit liar—ia memang menyukai tipe seperti itu. Namun baru saja pikiran itu muncul, Liu Xiu tiba-tiba teringat sesuatu. Konon, para petapa mampu merawat wajah sehingga nenek-nenek berusia puluhan pun bisa tampak semuda gadis remaja. Jika gadis ini begitu terbuka, mungkinkah ia hanya tampak muda di luar, padahal sejatinya sudah berumur dan menganggapnya seperti anak kecil? Kalau tidak, mana mungkin ia senatural itu menggandeng tangan pemuda lawan jenis? Sementara, hanya karena Liu Xiu melirik tumit gadis berbaju kuning itu saja, Mao Qiang sudah hendak bertengkar dengannya.
Begitu terpikir, Liu Xiu langsung merinding, bulu kuduknya berdiri.
“Guru, kau masuk angin ya? Terlalu sering kena angin gunung?” tanya Zhang Fei dengan nada khawatir. “Perlu aku buatkan wedang jahe supaya hangat?”
“Tidak, tidak apa-apa.” Liu Xiu buru-buru menggeleng. Ia terdiam sejenak, lalu mendadak teringat kabar bahwa orang ini konon adalah jagoan yang bisa membuat air mengalir mundur hanya dengan tiga kali teriakan. Mungkinkah ia juga pakai ilmu gaib? Bola matanya berputar, lalu ia bertanya dengan nada seolah-olah tak serius, “Yide, menurutmu mungkin nggak, ada orang yang cukup sekali berteriak bisa membuat ribuan pasukan musuh kabur?”
“Tidak percaya,” jawab Zhang Fei tanpa pikir panjang. Saat Liu Xiu agak kecewa, Zhang Fei menambahkan, “Tapi aku pernah dengar ada orang yang meneriaki musuh sampai jantung dan nyalinya copot, langsung mati di tempat. Kalau sampai mengusir ribuan pasukan cuma dengan sekali teriak, belum pernah dengar.”
Liu Xiu tertegun. “Serius ada yang cuma sekali teriak bisa bikin orang mati?”
“Tentu saja,” kata Zhang Fei, mendongak dengan pandangan agak meremehkan, meski segera menyembunyikan ekspresi itu. “Kau tak pernah dengar? Dulu Raja Agung Xi Chu dan Kaisar Gao saling berhadapan, dari jarak seratus langkah, cukup dengan menatap dan berseru pelan saja, seorang pemanah handal langsung tewas di tempat.”
“Serius segitunya?” Liu Xiu mendengus tak percaya.
“Begitu kata orang-orang.” Zhang Fei mengangkat bahu, matanya berbinar penuh kekaguman. “Andai aku bisa segarang itu, pasti luar biasa.”
“Kalau Xiang Yu saja bisa, kau juga pasti bisa,” kata Liu Xiu dengan nada serius. “Hanya saja, Xiang Yu bisa membunuh orang dengan teriakannya, kau kalau teriak, mungkin malah membangunkan musuh-musuh lain yang lalu menyerangmu bersama-sama.”
“Eh, guru kok begini sih?” Zhang Fei cemberut. “Gambar pun tak diajari, malah berharap muridnya dikeroyok orang.”
Wajah Liu Xiu agak memerah karena malu. Ia membela diri, “Bukannya aku enggak mau mengajarimu, tapi memang goresan pena-mu lemah sekali, garis yang kau buat seperti bulu burung, tak ada tenaga sama sekali, bagaimana mau menggambar? Lagipula, aku sudah mengajarkanmu, kan? Aku minta kau amati gerak-gerik para wanita, senyum dan lirikan mereka. Tapi kau malah tiap hari cuma melirik-lirik Mao Qiang…”
Baru saja kalimat Liu Xiu terucap, Zhang Fei sudah melompat, menutup mulut gurunya rapat-rapat. “Guru, guru, aku menyerah! Jangan bicara sembarangan, nanti kalau didengar Qiang Jie, bisa-bisa aku tamat! Guru kan orang baik, tolong jangan keras-keras, tolong jangan keras-keras…”
Liu Xiu menepis tangan Zhang Fei dengan kesal. Zhang Fei canggung menggosok-gosokkan tangannya, menunduk, “Sebenarnya, guru salah paham. Sekarang aku tak ada niat buruk pada Qiang Jie. Aku hanya menuruti perintah guru untuk mengamati perbedaan wanita dan pria. Guru benar juga, wanita memang seperti labu, lekuk tubuhnya… benar-benar indah sekali.”
Sambil berkata begitu, Zhang Fei dengan penuh khayalan menggerakkan tangannya membayangkan lekukan itu, tampak benar-benar terpesona. Tapi ia tidak sadar, Lu Min keluar dari rumah dan melirik ke arah mereka dengan bingung melihat Zhang Fei yang begitu terpukau.
Liu Xiu buru-buru mendorong Zhang Fei, lalu melangkah cepat ke arah Lu Min.
“Kalian sedang apa? Bahu digerakkan, pinggang diputar, latihan bela diri?” tanya Lu Min santai sambil menggerakkan lengannya.
Liu Xiu cepat-cepat menjelaskan, “Tidak, tadi aku cuma bertanya pada Yide, dan dia sedang memperagakan jawabannya.”
“Oh, tanya apa memangnya? Coba ceritakan.”
“Aku bertanya, apa mungkin musuh bisa mati diteriaki sekali saja. Katanya benar ada, bahkan Raja Agung Xi Chu Xiang Yu juga pernah melakukannya. Aku bilang dia mengada-ada, tapi dia ngotot mempraktikkannya.”
Gerakan Lu Min sempat terhenti, lalu ia lanjut lagi. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Dia tidak mengada-ada.”
“Hah?” Kali ini Liu Xiu benar-benar bingung. Omongan Zhang Fei bisa saja ia anggap bualan, tapi ucapan Lu Min tak mungkin ia ragukan. Dengan wataknya yang kaku, mustahil Lu Min bicara tanpa dasar. Ia menatap Lu Min lekat-lekat, “Benar ada kejadian seperti itu?”
“Ada. Itu tertulis jelas di Kitab Han,” jawab Lu Min, menoleh sekilas ke arahnya. Melihat Liu Xiu yang kaget seperti melihat hantu, ia tak tahan untuk tertawa. “Di tempat guru ada Kitab Han, nanti kau bisa cek sendiri. Kalau tidak salah ingat, pemanah itu seorang dari suku Loufan, memang tidak mati, tapi setelah itu tak bisa memanah lagi. Tertulis, ‘matanya tak berani menatap, tangan tak berani melepaskan anak panah, lalu lari masuk ke dalam tembok dan tak berani keluar lagi’, benar-benar menganggap Xiang Yu sebagai dewa.”
Liu Xiu diam-diam terkesima. Dalam hati ia berpikir, walau tidak sampai mati, itu pun sudah luar biasa. Ia teringat kata-kata pria paruh baya tadi dan jadi ragu, mungkinkah memang ada kejadian sehebat itu? Apakah teriakan Xiang Yu semacam gelombang suara rendah? Tanpa sadar ia menutupi dadanya, merasa sedikit gentar.
“Ada apa denganmu?” tanya Lu Min, melihat wajah Liu Xiu berubah.
“Tidak apa-apa,” Liu Xiu memaksakan senyum. “Aku cuma membayangkan, kalau aku jadi pemanah itu, apakah aku juga akan mati diteriaki begitu.”
“Hahaha…” Lu Min tak tahan untuk tertawa, suasana hatinya tampak cerah. Ia menenangkan Liu Xiu, “Tenang saja, kemampuan sehebat Xiang Yu yang bisa mengangkat gunung dan menutupi dunia itu mana mungkin ada banyak? Seingatku, kalau tidak menghitung kisah-kisah kuno zaman para Tiga Penguasa dan Lima Kaisar yang tidak jelas, dalam catatan sejarah tertulis hanya ada satu orang seperti dia. Lagi pula, bagian Kitab Han itu meniru dari Catatan Agung Tuan Sima, dan Tuan Sima dalam menulis sejarah kadang juga tidak terlalu dapat dipercaya.”
“Tuan Sima tidak dapat dipercaya?” Liu Xiu baru kali ini mendengar Lu Min bicara seperti itu. Menurutnya, seorang sarjana seperti Lu Min seharusnya memuja Sima Qian, bukan meremehkannya.
“Kau percaya orang menelan telur burung bisa melahirkan manusia?” sahut Lu Min, meliriknya sinis.
Liu Xiu tak bisa menjawab.
“Catatan seperti itu banyak sekali di Catatan Agung Tuan Sima, apakah semuanya harus dipercaya?” lanjut Lu Min.
Liu Xiu berkeringat dingin. Tampaknya ia memang terlalu dangkal memahami bangsa Han, terlalu banyak berasumsi, setidaknya mereka tidak setakjub dirinya terhadap Catatan Agung Tuan Sima. Ia agak malu lalu bertanya, “Tapi kisah semacam itu bukan hanya Sima Qian yang menulis, di kitab lain juga ada. Lantas bagaimana menjelaskannya?”
“Aku percaya itu hanyalah legenda yang diwariskan dari mulut ke mulut sejak zaman kuno, yang lama-lama melenceng dari kebenaran. Dalam studi, kita harus ketat, jangan hanya karena tercatat di buku lalu langsung percaya, apalagi menambah-nambah sendiri, itu sama saja menipu diri dan menodai nama baik orang bijak masa lalu. Deran, nanti kalau kau masuk ke Akademi Besar, memang ada banyak cendekiawan hebat, tapi tak sedikit pula yang suka mengutip ramalan dan takhayul. Jangan mudah percaya, orang-orang seperti itu…” Lu Min menggeleng, tak melanjutkan. Namun dari raut wajahnya yang penuh celaan, jelas sekali ia sangat meremehkan para sarjana yang suka menafsirkan ramalan dan takhayul.