Bab 087: Teknik Pedang Seorang Lelaki Sejati
Liu Bei dan Zhang Fei saling berpandangan, keduanya serempak mencibir. Perempuan ini benar-benar punya angan-angan terlalu tinggi, pikir mereka. Jika pada saat genting begini kau tidak dipaksa menerima syarat, lalu dilepaskan begitu saja, apakah kau akan benar-benar menyesal? Memang jumlah orang di pihak mereka juga tidak sedikit, tapi selain Xianyu Yin, hampir tak ada yang membawa senjata. Walau sehari-hari sering terlibat perkelahian, nyatanya sangat jarang benar-benar menggunakan pisau untuk melukai orang. Sementara lawan mereka hampir semuanya prajurit yang sudah terlatih di medan perang. Tadi itu saja jika bukan karena lengah, mustahil mereka bisa jatuh dalam keadaan ini.
Melepas peluang emas di depan mata demi bertarung lagi secara adil, mana ada urusan semurah itu?
Ada! Liu Xiu menjawabnya dengan tindakan nyata. Begitu suara kucing Persia itu selesai, ia langsung melepaskan genggamannya, mundur selangkah, lalu membungkuk memberi hormat, “Tak berani membantah.”
“Serang!” Teriak pemanah elang memberi perintah, belasan pengawal suku Hu langsung menyerbu, memungut senjata yang tergeletak di tanah, dan dengan cepat mengepung Liu Xiu dan kawan-kawannya, tampak garang siap melancarkan serangan.
Wajah Liu Bei berubah drastis, segera berdiri membelakangi Zhang Fei, lalu tersenyum pahit, “Yide, kali ini kita benar-benar celaka.”
Zhang Fei mengangkat alis, menggoyang-goyang pedangnya, lalu mencibir, “Tak perlu takut, paling buruk kita bertarung mati-matian. Membunuh satu orang sudah untung, membunuh dua malah dapat laba.”
Liu Bei hendak berkata, tapi akhirnya hanya terdiam beberapa saat sebelum berujar dengan suara serak, “Memang tak ada pilihan lain.”
Xianyu Yin dan yang lain pun ikut tegang melihat hal itu, hendak maju membantu, namun dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang kacau, diiringi derap kuda yang menggema. Xianyu Yin menoleh, langsung terkejut, lalu berbisik beberapa patah kata pada Wang Chan di sebelahnya. Wang Chan tampak ragu, lalu berbalik dan berlari ke arah Kota Ning.
Lu Min tak tahan lagi, melangkah keluar dari kerumunan, menghadang di tengah jalan, merentangkan tangan dan membentak keras, “Siapa kalian, berani-beraninya berlari kencang di pasar, tak takut melukai orang?”
Puluhan orang yang berlari mendekat itu terkejut melihat seseorang menghadang. Ksatria terdepan segera menarik tali kekang kudanya. Kuda itu meringkik panjang, kedua kaki depannya menendang-nendang ke udara dan melangkah maju beberapa langkah lagi. Untung sang ksatria segera mengendalikan arah kudanya, sehingga tak menabrak Lu Min, meski tanah yang terlempar dari kaki kuda tetap mengotori seluruh tubuh Lu Min.
“Dari mana munculnya cendekiawan ini, kau tak sayang nyawa?” hardik sang ksatria dengan wajah masam.
“Ini kawasan pasar, mana boleh seenaknya berlari?” Walau wajah Lu Min tampak kurang sedap, ia tetap tak mau mengalah, membalas dengan suara lantang.
Ksatria itu sempat tercengang oleh bentakannya, baru hendak bicara, tiba-tiba seorang pemuda yang mukanya belepotan kotoran sapi berlari mendekat dan membentak keras, “Kalian ini bagaimana, kenapa baru datang sekarang?”
Ksatria itu sudah dibuat kaget oleh Lu Min, di dalam hatinya masih menggerutu, kini melihat anak muda yang wajahnya tak jelas malah memarahinya, ia makin kesal, hendak membalas, namun tiba-tiba merasa ada yang aneh. Ia memperhatikan lebih saksama, lalu buru-buru turun dari kuda, berlutut dengan satu kaki.
“Tuan muda, anda… anda kenapa…”
“Jangan banyak bicara, bunuh saja bocah itu!” Pemuda itu menendang pundaknya dengan keras, membentak marah.
“Baik!” Ksatria itu tak berani lengah, segera bangkit dan menghunus pedang. Dengan satu isyarat tangan, para prajurit di belakangnya tanpa banyak bicara langsung mengepung Liu Xiu dan kawan-kawannya, bersiap menyerang. Namun, tiba-tiba kucing Persia itu membentak dingin, pedang panjangnya berkilat tajam mengarah langsung ke tenggorokan sang ksatria.
“Berhenti! Maju selangkah lagi, aku bunuh kau!”
Ksatria itu mengenali perempuan Hu itu, tahu dia adalah kekasih sang tuan muda, tak berani bertindak gegabah, hanya bisa berhenti dan menatap tuan mudanya dengan bingung. Pemuda itu mengerutkan kening, lalu maju dengan nada lembut, “Nona Axue, para lelaki ini telah menyinggungmu. Biar mereka kuberi pelajaran, kenapa mesti kau halangi?”
“Aku dan dia sudah punya taruhan, kau tak dengar tadi?” sahut kucing Persia itu dengan wajah dingin.
Pemuda itu terdiam. Tadi ia memang tak mendengar jelas apa taruhannya. Tapi di hadapan kekasih, ia tak mungkin mengaku dirinya tak peduli soal hidup matinya, jadi ia hanya bisa tergagap, “Itu… itu tidak perlu dihitung, kan?”
“Kami orang Suku Kepala Banteng, janji yang terucap bagai anak panah yang dilepas, tak pernah bisa ditarik kembali.” Kucing Persia itu bahkan tak memandangnya, lalu berbalik pada Liu Xiu yang berdiri tenang di tengah kerumunan, “Kau sudah siap?”
Liu Xiu mengangguk, “Aku siap menerima tantanganmu kapan saja.”
“Baik, ambil senjatamu, aku takkan mengambil keuntungan darimu.” Setelah berkata demikian, kucing Persia itu mundur selangkah dengan pedang di tangan, menatap Liu Xiu tanpa berkedip. Pemanah elang segera membalikkan badan, barisan yang tadinya mengepung Liu Xiu dan teman-temannya kini berbalik menghadap para prajurit yang baru datang, seolah siap membantai mereka jika berani bergerak.
Pemuda itu mengerutkan dahi, namun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berseru penuh perhatian, “Axue, hati-hati!” lalu, dengan enggan, memerintahkan anak buahnya mundur ke pinggir.
Lu Min, Xianyu Yin, dan yang lain tampak terpana. Melihat situasi tak makin memburuk, pemuda itu meski marah, tak berani menyerang, sehingga mereka pun lega dan mengelilingi arena, memperhatikan pertarungan yang akan berlangsung.
“Xuande, berikan pedang padaku.” Liu Xiu menepuk bahu Liu Bei, menerima pedang darinya, “Berdirilah di samping.”
“Kakak…”
“Tuan…”
Liu Xiu tersenyum, mendorong mereka perlahan, “Tenang saja, takkan apa-apa.”
Liu Bei dan Zhang Fei saling bertatapan, sadar bahwa kehadiran mereka di situ hanya akan membuat Liu Xiu kesulitan, akhirnya mereka menyingkir meski enggan pergi terlalu jauh. Zhang Fei tetap menggenggam erat pedangnya, memperhatikan pergerakan para prajurit, siap menerjang kapan saja.
Kucing Persia itu melihatnya, segera menunjukkan sikap serius. Kaki kanan mundur setengah langkah, kaki kiri menekuk, kaki kanan lurus, berdiri dalam posisi siap panah, tangan kiri menggenggam sarung pedang melintang di depan dada, tangan kanan mengangkat pedang panjang mengarah ke langit, siap bertarung.
Liu Xiu menerima pedang, memutarnya sekali, lalu mengabaikan kucing Persia yang sejak tadi sudah siap, malah dengan khidmat memegang pedang dengan kedua tangan, mengangkatnya tiga kali ke langit, kemudian dengan satu tangan, menggoreskan pedang ke tanah tiga kali, lalu membungkuk ke arah timur.
Kucing Persia itu kebingungan, lalu membatalkan sikapnya dan berseru, “Hei, apa yang kau lakukan?”
Liu Xiu tak menggubrisnya, menghormat ke empat penjuru, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Senjata adalah urusan hidup dan mati, tak boleh disepelekan. Bertarung denganmu, sumpah telah terucap dari mulut kita, didengar para dewa di empat penjuru. Aku bersumpah akan menepati janji.”
Kucing Persia itu mengangkat alis, mengangguk, “Tenang saja, aku juga akan menepati janji.”
“Aku sungguh percaya padamu,” sahut Liu Xiu, lalu dengan penuh gaya mengatur posisi, kedua tangan memegang pedang, kaki kiri melangkah setengah, kaki kanan menekuk ke belakang, berseru dengan mantap, “Pedang perang bergagang cincin gaya Han, panjang empat kaki, berat empat kati tiga liang, ditempa dari baja pilihan. Liu Xiu dari Zhuo, mempersembahkan jurus pedang lelaki sejati, mohon petunjuk.”
Kucing Persia itu melihat sikap khidmat Liu Xiu, sempat tertegun, lalu mengangkat pedangnya, meniru gaya Liu Xiu, “Pedang panjang Partia, panjang empat kaki satu inci, berat dua kati tujuh liang, ditempa oleh pandai besi ternama dari Damaskus. Xianbei, angin dan salju, pedang air hitam Buyeo, mohon petunjuk.”
Lu Min menatap bingung pada Mao Jiang di sampingnya, “Sejak kapan Deran belajar jurus pedang lelaki sejati?”
Mao Jiang mencibir, “Kau percaya omongan begitu? Jurus pedang lelaki sejati, jurus pedang penjahat mungkin lebih masuk akal.”
Lu Min ingin bertanya lagi, tapi melihat Mao Jiang memandang rendah pada Liu Xiu, ia pun urung bertanya, maklum ia tahu ada sedikit masalah antara mereka berdua, lalu kembali fokus menonton pertarungan Liu Xiu dan kucing Persia itu.