Bab Dua Puluh Tujuh — Jalan Buntu!
Sepuluh menit berlalu dengan sangat cepat, sekejap mata saja sudah habis. Suara peluit kumpul dari Rubil membuyarkan lamunan Tang Jue. Ia menarik kembali tatapan kosong yang muncul karena berpikir terlalu dalam, lalu bangkit berdiri dari atas rumput. Dengan tulus, ia berkata kepada De Wu, "Tuan De Wu, terima kasih banyak!"
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Tang Jue ucapkan, tapi semua itu ia padatkan dalam satu kalimat ini. Ucapan itu begitu tulus, benar-benar berasal dari lubuk hatinya. De Wu telah menghemat waktu baginya untuk menebak-nebak sendiri, langsung menunjukkan di mana letak masalahnya, dan menawarkan dua jalan keluar.
Keikhlasan De Wu sekali lagi membuat Tang Jue menyadari sisi indah dalam diri manusia.
Tang Jue merasa haru hingga matanya sedikit basah.
Pertandingan uji coba tujuh lawan tujuh di setengah lapangan masih berlangsung. Di sela-sela pertandingan, Rubil terus-menerus meneriakkan peringatan keras kepada para pemain tentang kesalahan yang mereka buat. Malam ini ada laga Piala Prancis, jadi mereka sedang mencoba berbagai kombinasi pemain. Karena akhir pekan nanti akan bertandang dalam kompetisi liga utama, pelatih kepala Vahid Halilhodžić ingin para pemain inti mendapat waktu istirahat.
Selesai latihan, para pemain kembali ke ruang ganti dan duduk di bangku. Vahid Halilhodžić mulai membacakan daftar pemain malam ini:
"Letizi, Nélam De Wu, Sake." Nama-nama penjaga gawang dan bek disebutkan terlebih dahulu oleh Vahid Halilhodžić.
Mendengar namanya masuk dalam daftar, wajah Sake langsung berseri-seri. Wajah pemain lain biasa saja, karena masuk daftar belum tentu berarti pasti turun ke lapangan.
Saat itu, Tang Jue yang duduk di sebelah Sake menunduk, masih memikirkan percakapannya dengan De Wu, memikirkan jalan mana yang harus ia pilih, adakah kemungkinan jalan lain.
"Ben Asyaur, Boskovic," nama-nama gelandang disebutkan satu per satu.
"Luboya, Pankrat, Tang Jue." Nama-nama penyerang disebutkan paling akhir.
Sake tak tahan untuk menyenggol Tang Jue dengan sikunya. Tang Jue menatap Sake dengan ekspresi kosong. Sake berbisik dengan penuh kegembiraan, "Tang, nama kita masuk daftar!"
"Benarkah?"
Sake menatap Tang Jue dengan heran. Padahal pelatih kepala baru saja menyebut nama mereka berdua, kenapa Tang Jue malah tampak terkejut begitu.
Vahid Halilhodžić berkata, "Ini adalah daftar pemain utama. Saya harap semua yang namanya tercantum benar-benar siap. Malam ini kita bermain di kandang sendiri, tunjukkan kemampuan terbaik kalian.
Saat ini, performa kita di Liga Champions dan liga utama belum memuaskan. Para suporter sangat kecewa, klub pun sedang tertekan. Mungkin, piala ini adalah peluang terbaik kita tahun ini untuk meraih gelar juara, jadi semuanya harus berusaha keras.
Baiklah, itu saja dari saya. Jam enam tepat kita bertemu di stadion!"
Tang Jue berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk, kunci sudah terpasang di lubang, tapi tangannya tak bergerak.
Pikirannya berkecamuk, De Wu telah menunjukkan letak permasalahannya dan menawarkan dua jalan. Tang Jue terus memikirkan, mana yang harus ia pilih? Jika tidak menempuh dua jalan itu, adakah jalan lain? Jika ada, seperti apa jalan itu?
"Kriek." Pintu terbuka. Tang Jue mengangkat kepala, terpana melihat wajah cantik Alice di hadapannya. Semerbak harum melintas ke hidungnya, membuatnya tanpa sadar menghirup udara berulang-ulang, terbuai oleh aroma itu.
Alice menatap Tang Jue dengan keheranan, lalu dengan suara jernih berkata dalam bahasa Indonesia, "Tang, kamu sudah pulang!"
Suara Alice membuyarkan lamunan Tang Jue, menghilangkan keraguan di matanya. Melihat tahi lalat nakal di bibir Alice, hatinya langsung membuncah bahagia. Ia pun melangkah masuk dan meletakkan tas olahraganya.
Tang Jue mengenakan sandal, lalu memuji Alice dengan senyum, "Alice, pengucapanmu barusan sangat bagus. Kamu sudah banyak berkembang!"
Wajah Alice memancarkan kebanggaan, tapi kemudian alisnya berkerut, berkata dengan nada cemas, "Tang, resep masakan itu susah sekali dihafal. Masakan Cina prosedurnya banyak, aku sering lupa-lupa."
Tang Jue duduk di sofa ruang tamu, memandang Alice dan berkata, "Alice, kamu sudah sangat jauh berkembang. Segala sesuatu memang harus pelan-pelan, jangan terburu-buru. Malam ini kamu masak apa?"
Alice lebih dulu menyeduhkan teh untuk Tang Jue, meletakkannya di meja, lalu duduk di sampingnya, berkata dengan ragu, "Tang, aku masak kaki babi rebus. Hanya saja..."
Tang Jue bertanya heran, "Hanya apa?"
Alice menundukkan kepala seperti anak kecil yang berbuat salah, lalu berbisik pelan, "Saat memasak, aku lupa urutan memasukkan bumbu, jadi bumbunya aku masukkan semua sekaligus."
Tang Jue langsung tertawa. Menurutnya itu bukan masalah besar. Alice mengira Tang Jue sedang menertawakannya, sehingga wajahnya semakin malu.
"Ayo, biar aku coba, kaki babi rebus buatan nona Alice yang cantik!"
Alice sedikit jengkel, ia mendongak dan berkata, "Nanti waktu makan, tidak boleh bilang tidak enak, ya."
Tang Jue duduk di meja makan, mengambil sepotong kaki babi. Warnanya bagus, kuning keemasan dengan semburat coklat tua. Aromanya harum, ia menggigit, teksturnya pas, tidak terlalu keras atau lembek.
Alice menatap Tang Jue dengan gugup.
Senyuman puas perlahan merekah di wajah Tang Jue, membuat Alice akhirnya bisa bernapas lega.
Tang Jue memuji, "Alice, aromanya sungguh menggoda!"
Alice tidak marah pada Tang Jue, meski ucapannya bisa bermakna ganda. Ia tahu Tang Jue memuji masakannya, bukan wangi tubuhnya.
Mendapat pengakuan atas usahanya, Alice merasa sangat gembira, lalu bertanya, "Tang, menurutmu aku boleh tidak mengikuti resep saat masak?"
Gerakan makan Tang Jue terhenti, sumpitnya menggantung di udara!
Alice menatap Tang Jue keheranan, hari ini Tang Jue memang bertingkah aneh.
Kening Tang Jue sedikit berkerut.
Tidak mengikuti resep saat memasak!
Tujuan memasak adalah menghasilkan makanan enak, masing-masing koki punya cara sendiri. Alice tidak mengikuti urutan di resep, tapi tetap berhasil membuat kaki babi yang lezat.
Dalam sepak bola, tujuan melakukan dribel adalah melewati lawan. Setiap pemain punya teknik berbeda: ada yang memakai tipuan, ada yang mengganti arah, ada yang mengubah kecepatan, bahkan ada yang menggabungkan beberapa teknik sekaligus.
Setiap pemain punya pola sendiri, tapi tujuannya sama!
Pandangan mata bisa menjadi celah, ada yang mengatasinya dengan menipu, ada yang menyembunyikan arah gerak mata sebelum melakukan dribel. Semua itu bertujuan agar berhasil menembus pertahanan lawan!
Jika ia tidak mengubah kebiasaan ini, apakah berarti ia tidak bisa menembus lawan?
Sore tadi saat latihan, bukankah ia juga berhasil melewati De Wu di percobaan pertamanya?
Mata Tang Jue mulai bersinar cerah!
De Wu memang menunjukkan padanya bahwa tatapan matanya adalah kelemahan. Saat itu dunia Tang Jue menjadi suram, segalanya tampak buram. De Wu menawarkan dua jalan keluar, dua jalan yang bisa membawanya melewati kabut itu.
Jika ingin maju, ia harus berjalan menembus kabut tebal itu. Kabut menghalangi pandangan, ia tak tahu di mana ujung jalan itu, ia pun ragu jalan mana yang harus dipilih.
Kalau tidak menempuh dua jalan itu, di mana lagi jalannya?
Itulah sebabnya ia terus berpikir, sampai-sampai kunci sudah menancap di pintu tapi ia lupa membukanya.
Saat ini, dalam duniannya tiba-tiba muncul matahari merah menyala, sinarnya menembus kabut tebal, mengusir semua kegelapan, membuat pandangan Tang Jue perlahan menjadi jernih!
Tang Jue menatap Alice, mata biru bening Alice dipenuhi kebingungan. Tang Jue bertanya, "Alice, pengucapanmu hari ini sangat tepat, bagaimana caramu melatihnya?"
Alice makin bingung, alis indahnya berkerut. Ia meletakkan sumpit, lalu berkata, "Aku merekam ucapanmu dengan alat perekam, lalu menirukan rekaman itu."
Menirukan rekaman?
Biasanya, metode yang paling umum adalah belajar fonetik dulu, lalu membaca sesuai fonetik, seperti Ronaldo yang menyembunyikan arah pandang sebelum melakukan dribel agar tak ketahuan.
Atau menandai dengan bahasa ibu, lalu membaca sesuai pelafalan bahasa sendiri, seperti Ronaldinho yang menempuh cara berbeda.
Tapi Alice tidak menempuh dua jalan itu, ia justru langsung meniru suara Tang Jue dari rekaman!
Di benak Tang Jue muncul sebuah gambaran:
Ada sebuah gunung tinggi, di kaki gunung ada dua jalan menuju puncak. Satu jalan mengikuti kontur gunung, berkelok-kelok ke atas. Karena banyak yang lewat, jalan itu lebar dan ramai. Tang Jue melihat Ronaldo mendaki ke puncak lewat jalan ini!
Satu jalan lagi merupakan jalur baru yang menembus hutan, di dalamnya kadang ada binatang buas. Ini adalah jalan yang baru dibuka, hanya seorang yang menempuhnya, Tang Jue melihat Ronaldinho masuk ke hutan, lalu dengan gesit menaklukkan puncak!
Tang Jue memandang ke atas puncak, tiba-tiba muncul semangat membara dalam hatinya. Ia tidak memilih dua jalan itu, melainkan langsung menanjak ke atas!
Semak berduri menghalangi jalan, Tang Jue menghunus parang dari punggungnya, menebas dan terus maju!
Batu besar menghadang, Tang Jue mengambil tali dari pinggangnya, mengaitkan kail besi ke balik batu, lalu memanjat ke atas!
Tebing curam menghadang, Tang Jue menarik napas dalam, meludahi telapak tangan, lalu memanjat naik!
Tang Jue memilih jalan yang terjal, di jalur ini banyak yang sudah tumbang. Ada yang terjebak di semak berduri, ada yang tersesat di bawah batu besar, ada yang terjatuh dari tebing curam!
Hingga kini, belum ada satu pun orang yang berhasil sampai ke puncak lewat jalan ini!