Bab Dua Belas: Obat Genetika Berhasil!
Sebelum Wenting pulang ke negaranya untuk liburan musim dingin, Tang Jue membuka lemari kelima. Ia masih harus membuka dua lemari lagi agar bisa mengumpulkan semua obat yang dibutuhkan.
Tahun lalu saat Imlek, Cuihua pulang kampung untuk merayakan tahun baru. Namun tahun ini, Cuihua tidak pulang. Di pagi hari malam tahun baru, ia menelpon ibunya sambil menangis. Tang Jue tidak menanyakan alasan Cuihua tidak pulang, karena ia samar-samar tahu, Cuihua sedang berhemat. Ia ingin membantu biaya operasi Tang Jue di masa depan.
Sejak Tang Jue mengatakan ada tabib terkenal yang mengobatinya, wajah kedua orang tuanya mulai merekah senyum. Tapi, mereka justru semakin berhemat, membeli sampo termurah, dan bila sabun mandi habis, ibunya akan membeli sabun batang yang paling murah.
Tang Jue tidak mengerti alasan ibunya begitu berhemat.
Musim semi datang seperti yang dijanjikan. Tang Jue merentangkan tubuh di bawah semilir angin. Di musim semi ini, ia harus berhasil membuat obat untuk jantung dan ginjal, karena ia merasa penyakitnya kian hari makin parah. Setiap kali selesai latihan di hutan, ia butuh waktu lama untuk beristirahat sebelum pulang.
Liburan musim dingin berakhir, Wenting kembali ke Lyon. Wenting membuka koper, mengeluarkan dua ekor ikan asin, dan menyerahkannya pada Tang Jue. Tang Jue tersenyum, “Kak Wenting, kau membawanya dari tanah air sejauh ini, aku jadi sungkan menerimanya.”
Wajah Wenting tetap dingin, seperti es di puncak gunung yang belum mencair. Ia berkata datar, “Aku tidak punya alat masak di sini. Ini ibuku yang memaksaku membawanya. Kalau kau tidak mau, akan aku buang ke tempat sampah.”
Tang Jue buru-buru berkata, “Baiklah, biar aku yang ambil!”
Suatu malam di bulan Maret, Tang Jue akhirnya membuka lemari terakhir. Hampir saja ia berteriak, karena latihan di hutan beberapa hari ini, ia hanya sanggup mengelilingi sepuluh batang pohon saja.
Obat-obatan akhirnya terkumpul lengkap. Kini saatnya membuat obat genetik!
Tang Jue ingin menggunakan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya untuk menyembuhkan penyakitnya. Menggenggam leher takdir dan mengubah jalannya hidup!
Dengan hati-hati ia mengambil botol obat, menuangkan isinya ke timbangan, dan menakar dengan seksama. Gerakannya luwes, seolah ia sudah bertahun-tahun menekuni bidang ini. Semua ini adalah hasil eksperimennya selama setengah tahun.
Selama enam bulan itu, eksperimen yang ia lakukan sama sekali tak berkaitan dengan farmasi. Tapi, ia berhasil menguasai alat-alat laboratorium, yang menjadi pondasi kokoh untuk pembuatan obat terakhir yang ia perlukan.
Tang Jue dan komputer super Xiao Fei Fei, bekerja rapi di laboratorium menjalankan proyek farmasi besar. Di kamar sebelah, Wenting serius membaca buku, sesekali membuat tanda pada halaman. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa saling mengganggu.
Suatu malam di bulan Juli, Tang Jue menatap bubuk putih di dalam cawan kaca, tak sanggup lagi menahan kegembiraan di wajahnya.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, cahaya keemasan mengusir gelap, hari baru pun tiba!
Inilah obat genetik untuk mengobati jantung dan ginjal, selain itu, obat ini juga dapat meningkatkan kebugaran tubuh!
Dengan hati-hati, Tang Jue menuangkan bubuk putih itu ke timbangan, menakar secara teliti, kemudian membungkusnya dengan kertas putih. Bubuk-bubuk itu dibagi menjadi tujuh bungkus kecil. Ada tujuh dosis obat, cukup untuk menyembuhkan tujuh orang!
Tang Jue memasukkan ketujuh bungkus kecil itu dengan hati-hati ke saku bajunya, lalu membersihkan semua alat laboratorium. Sambil bergumam, “Jangan sampai ada jejak yang tertinggal!”
Setelah semua selesai, Tang Jue pergi ke kamar sebelah. Wenting menatapnya, bertanya heran, “Ada apa?”
Wenting, seperti namanya, anggun dan tenang, tubuhnya semampai. Tahi lalat di bawah bibirnya bergerak lincah mengikuti gerak bibirnya. Kulitnya seputih salju, berkilauan di bawah cahaya lampu.
Tang Jue menatap gadis cantik itu, tersenyum, “Kak Wenting, ayo kita pulang!” Jika orang lain yang mendengar, atau seandainya orang lain yang berkata, pasti mengira mereka sepasang kekasih. Namun Wenting tidak marah, ia hanya bertanya heran, “Sudah selesai?”
Biasanya Tang Jue selalu menunggu ia menegur baru mau pulang. Hari ini benar-benar di luar dugaan.
Wajah Tang Jue berseri-seri, “Selesai!”
Wenting yang ia maksud adalah eksperimen malam itu, sementara Tang Jue menjawab bahwa obat genetiknya telah rampung.
Wenting menutup buku, mematikan lampu, dan mengunci pintu.
Tang Jue berkata sambil berjalan, “Kak, aku ingin duduk-duduk di kamarmu.” Wenting melirik jam tangannya, lalu berkata dingin, “Sekarang jam sembilan, kau boleh duduk sampai setengah sepuluh.”
Tang Jue sudah tidak sabar pulang, ingin segera meminum obat genetik itu. Ketidaknyamanan saat latihan sore tadi masih membekas. Semakin cepat tubuhnya pulih, ia tidak ingin menunggu sedetik pun lebih lama.
Tang Jue mengeluarkan satu bungkus kecil dari sakunya, menengadahkan kepala, menuangkan obat genetik ke dalam mulut, lalu meneguk air dengan cepat.
Di bawah cahaya lampu yang lembut, Wenting duduk di meja belajar, menatap Tang Jue dengan heran, “Kau sakit?”
Tang Jue menelan obat yang ada di mulutnya, menatap wajah cantik itu, menghirup aroma tubuhnya yang lembut, memperlihatkan gigi putihnya, “Hmm, tapi tidak terlalu parah.”
Wenting tidak mempedulikannya lagi, melanjutkan membaca.
Tang Jue duduk di sisi lain meja, tujuannya ke sini memang untuk segera meminum obat genetik. Kini tujuannya sudah tercapai, kenapa ia masih enggan pergi?
Sebenarnya Tang Jue memang tidak ingin cepat-cepat pergi, berada di sisi Wenting membuatnya tenang. Lebih dari itu, ia sangat menikmati kebersamaan dengan gadis itu, meski hanya duduk diam membaca, tanpa sepatah kata pun.
Di dalam kamar, hanya suara lembaran buku yang terdengar. Mereka berdua diam, tenggelam dalam bacaan masing-masing.
Namun tiba-tiba, Tang Jue merasakan sakit di perutnya.
Tang Jue menekan perutnya dengan kedua tangan, rasa sakit itu semakin hebat, seperti banyak pisau tajam mengiris-iris perutnya. Ia menahan sakit sekuat tenaga, keringat dingin mulai membasahi dahinya dan menetes di pipi.
Kenapa ini terjadi? Apakah ada masalah dengan obat genetik itu?
Belum pernah ada yang mendengar bahwa meminum obat genetik akan menimbulkan rasa sakit seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi?
Saat itu suara Xiao Fei Fei yang seperti anak kecil terdengar di benaknya, “Tuan, kualitas obat genetik ini rendah, saat proses perubahan tubuh akan muncul rasa sakit hebat. Rasa sakit ini akan berlangsung selama setengah jam.”
Tang Jue menggerutu dalam hati, “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?”
Xiao Fei Fei menjawab, “Kau tidak bertanya padaku.”
Tang Jue nyaris muntah darah, sekarang harus bagaimana? Ini kamar Wenting, harus segera pergi!
Dengan menahan sakit di perut, Tang Jue berdiri. Namun tiba-tiba, rasa sakit hebat juga menyerang jantungnya, bukan sekadar sakit, tapi seperti diremas-remas. Seolah-olah ada ribuan pisau tajam mengiris jantungnya, Tang Jue seperti dapat melihat jantungnya terpotong menjadi ribuan bagian.
Wenting menoleh, alisnya berkerut, ia melihat keringat di pipi Tang Jue jatuh menetes ke lantai, wajah Tang Jue mulai berubah bentuk. Wenting merasa ada yang tidak beres, ia berdiri, bertanya dingin, “Apa yang terjadi? Bagian mana yang sakit?”
Biasanya Wenting sedingin es, tapi kali ini ia peduli pada orang lain. Kalau teman-temannya melihat, pasti mereka sangat terkejut.
Tang Jue meringis, “Mungkin ini efek setelah minum obat, tidak terlalu parah. Aku pulang sekarang.” Selesai berkata, ia berjalan tertatih-tatih ke luar.
“Berhenti!” seru Wenting lantang.
Tang Jue berbalik menatapnya, menahan sakit, “Kak Wenting, ada apa?”
Wenting menatap keringat di wajah Tang Jue yang terus menetes, berbicara dengan dingin, “Sekarang belum pukul setengah sepuluh, kau belum boleh pergi.” Tang Jue menatapnya heran, tak lama ia paham maksud Wenting.
Bukan karena waktu yang belum sampai, melainkan Wenting menyadari kondisinya sedang buruk.
Xiao Fei Fei berkata, “Tuan, Wenting juga pandai berakting.”
Tang Jue menggeram dalam hati, “Diam! Dasar bodoh, soal rasa sakit setelah minum obat genetik saja kau lupa memberitahuku, sekarang malah bicara yang tidak penting.”
Sakit yang amat sangat menyiksa Tang Jue, jangankan berjalan, berdiri saja sudah hampir tak sanggup. Ia tahu, dalam kondisi seperti ini, mustahil bisa sampai ke rumah. Jika memaksakan diri keluar, ia hanya akan jatuh di pinggir jalan.
Dengan susah payah, ia duduk lagi di kursi tadi.