Bab Seratus Dua Puluh: Keangkuhan
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi, Wang Lin mengantar Gu Yue'an dan Xie Yuliu ke lapangan latihan besar di selatan kota.
Seluruh rangkaian ujian bela diri musim semi akan diselenggarakan di lapangan ini. Saat mereka tiba, warga ibu kota sudah mulai berdatangan. Ujian bela diri musim semi memang terbuka untuk umum, namun untuk masuk, seseorang harus membayar dan menunjukkan berbagai dokumen resmi. Pada akhirnya, semua itu hanya bermuara pada satu hal: uang.
Gu Yue'an dan Xie Yuliu adalah peserta baru ujian bela diri, sehingga mereka tidak perlu membayar dan memiliki akses masuk yang berbeda.
Mereka menyusuri lorong yang dijaga ketat oleh pasukan Jinwuwei dari selatan kota menuju ke dalam lapangan. Para peserta baru yang datang lebih awal sudah menunggu di sana. Gu Yue'an mengamati sekeliling, namun tidak melihat satu pun wajah yang dikenalnya. Wang Shifang, sosok yang namanya terus terngiang di telinganya sepanjang hari kemarin, tentu saja juga tidak ada di sana.
Saat merasa bosan, ia menyadari Xie Yuliu di sampingnya sedang memberi kode dengan matanya. Hal ini cukup mengejutkan bagi Gu Yue'an, mengingat pria yang biasanya sangat irit bicara itu jarang sekali melakukan tindakan seperti ini.
Ia mengikuti arah pandangan Xie Yuliu dan melihat seorang kenalan sedang berjalan masuk dari luar, tampak berniat mendekati mereka.
Ekspresi Gu Yue'an berubah sedikit canggung, karena orang yang datang itu tidak lain adalah Yue Zili, murid utama dari Sekte Pedang Changsheng.
"Saudara Gu, Saudara Xie, apa kabar?" Suara Yue Zili terdengar sebelum ia tiba. Senyumnya ramah, dan sepasang matanya yang teduh seperti air musim semi tetap membuat orang merasa nyaman. Sama sekali tidak tampak sisa-sisa pertarungan sengit atau urusan rumit yang pernah terjadi di antara mereka.
Gu Yue'an kini tidak lagi berpikiran sempit seperti dulu. Ia tidak lagi menganggap pria ini sebagai seorang munafik yang hanya bersandiwara. Pasalnya, di Gunung Yunlong, Pengcheng, saat Ye Que hampir tewas di bawah pedang Ximen, pria inilah yang secara sukarela turun tangan dan menyelamatkan nyawa Ye Que. Bisa dikatakan dia adalah orang yang bertanggung jawab. Memikirkannya sekarang, peristiwa masa lalu itu mungkin hanyalah tuntutan keadaan, jadi ia tidak bisa menyalahkan pria ini sepenuhnya.
Oleh karena itu, Gu Yue'an membalas salamnya dengan sopan, "Saudara Yue, sudah lama tidak bertemu, Anda masih terlihat luar biasa."
Xie Yuliu hanya mengangguk kecil tanpa sepatah kata pun.
Yue Zili tampaknya sudah terbiasa dengan sifat Xie Yuliu dan fakta bahwa mereka sebenarnya bukan benar-benar saudara seperguruan. Ia tidak banyak bicara, hanya mengangguk, lalu merendahkan suaranya kepada Gu Yue'an, "Saudara Gu, berhati-hatilah saat menghadapi Wang Shifang di babak ini."
"Apa maksudmu?" tanya Gu Yue'an sambil menatapnya.
"Aku pernah bertanding melawannya dan kalah setengah langkah."
"Oh?" Gu Yue'an tak kuasa menahan alisnya yang terangkat.
***
Sekitar setengah batang dupa berlalu, para peserta ujian bela diri hampir semuanya telah tiba, namun sosok Wang Shifang masih belum menampakkan diri. Di sisi arena, penguji dari Kementerian Kepegawaian sudah mulai membacakan daftar pasangan tanding dan meminta para peserta masuk ke arena.
Nama Xie Yuliu dipanggil lebih dulu, lalu ia pun pergi. Nama Gu Yue'an menyusul tepat setelahnya. Ia menunggu sejenak, namun karena Wang Shifang belum juga datang, ia memutuskan untuk pergi ke arena terlebih dahulu.
Gu Yue'an tidak berharap bisa menang tanpa bertarung. Namun, ia tidak mengerti maksud di balik perkataan Yue Zili. Kekuatan Yue Zili tidak bisa diremehkan; saat Gu Yue'an mengalahkannya dulu, ada faktor keberuntungan yang terlibat. Hal ini terbukti kemudian dalam mode simulasi di ruang latihan, di mana bayangan Yue Zili dalam kondisi 80 persen pun masih sangat tangguh. Saat itu, Yue Zili setidaknya masih memiliki satu jurus pamungkas yang belum ia keluarkan.
Apakah Yue Zili mengatakan pernah kalah setengah langkah dari Wang Shifang hanya untuk mengacaukan pikirannya?
Jika itu niatnya, maka cara itu terlalu picik. Gu Yue'an sudah kenyang pengalaman bertarung; kata-kata tidak mungkin menggoyahkan mentalnya. Sebaliknya, hal itu justru semakin membakar semangat juangnya. Zeng Jingheng bilang Wang Shifang itu hebat, gila, dan menakutkan. Sekarang Yue Zili datang mengatakan hal yang sama dan mengaku pernah kalah darinya agar Gu Yue'an berhati-hati.
Gu Yue'an justru sama sekali tidak merasa takut; tekadnya untuk mengalahkan Wang Shifang malah semakin bulat.
Dalam jalur bela diri, selain melewati rintangan demi rintangan saat berlatih, ia juga harus mengalahkan lawan-lawan yang tampak mustahil untuk dikalahkan.
Mengatasi kesulitan dan menembus batas, itulah makna sejati dari bela diri.
Sesampainya di arena, ia mendapati bahwa tempat ini sangat unik. Bukannya menyerupai gelanggang biasa, arena ini lebih mirip kandang binatang buas; seluruh sisinya dikelilingi pagar baja yang kokoh dari segala arah.
Artinya, begitu seseorang masuk ke dalam, ia tidak akan bisa melarikan diri kecuali menyerah atau tewas di tempat.
Saat Gu Yue'an tiba, arena tersebut sudah dipenuhi orang. Mereka tampaknya datang karena penasaran, mengingat nama Gu Yue'an tengah melambung tinggi di ibu kota belakangan ini. Semua orang ingin tahu seperti apa rupa orang yang tampak tidak takut pada apa pun ini.
Namun, saat melihat sosok Gu Yue'an secara langsung, banyak yang merasa kecewa.
"Dia terlihat sama saja dengan orang biasa. Apakah Gu Xiao'an ini benar-benar sehebat itu?"
"Kurasa juga begitu. Tadinya kukira dia pria tampan yang luar biasa, tak disangka penampilannya sangat biasa..."
"Menurutku, cerita tentang dirinya pasti dilebih-lebihkan. Kita semua tidak melihatnya secara langsung."
"Benar, apalagi hari ini dia melawan 'tuan muda' itu. Kurasa dia pasti akan mati di dalam sana..."
Berbagai bisikan terdengar.
Gu Yue'an mendengar semuanya dengan jelas, namun ia tidak peduli. Setelah memverifikasi identitasnya dengan penguji, ia masuk ke dalam "kandang" tersebut.
Hanya saja, Wang Shifang tetap tidak muncul meski ditunggu-tunggu. Pertandingan di arena lain sudah dimulai, sementara arena Gu Yue'an masih sepi.
Penguji dari Kementerian Kepegawaian melirik nama di daftar tanding. Saat melihat nama Wang Shifang, ia merasa pening, namun setelah ragu-ragu berkali-kali, ia berteriak ke arah lapangan, "Apakah peserta nomor tujuh, Wang Shifang, sudah hadir? Jika belum, mohon segera datang. Jika melebihi waktu ujian satu batang dupa, ia akan dinyatakan gugur, dan kemenangan diberikan kepada Gu Yue'an."
"Drak—" Belum sempat suaranya hilang, suara derap kaki kuda memecah suasana lapangan. Terdengar keributan di luar, disusul oleh seekor kuda yang melesat kencang memasuki area ujian. Kuda itu berlari hingga berhenti tepat di depan arena nomor tujuh. Warga yang menonton terkejut dan berhamburan, banyak yang terjatuh dan nyaris terinjak-injak hingga tewas.
Kuda itu berhenti mendadak di depan arena. Seorang pemuda berbaju zirah melompat turun. Siapa lagi kalau bukan Wang Shifang.
Pria ini menerobos masuk ke tempat ujian dengan berkuda, bahkan mengabaikan keselamatan warga hingga nyaris menimbulkan korban jiwa. Namun, wajahnya tetap tenang seolah itu adalah hal yang wajar. Sungguh arogan dan nekat.
Begitu turun dari kuda, ia sama sekali tidak memedulikan sang penguji. Ia hanya menjinjing sebuah karung dan berjalan menuju arena.
Saat ia berjalan, noda darah samar-samar merembes dari karung itu. Dilihat dari penampilannya, ia masih mengenakan zirah besi yang berlumuran darah, seolah baru saja kembali dari medan perang.
"Sudah menunggu lama, ya? Maaf, semalam kudengar di dekat Gunung Yanshan ada kelompok bandit bernama Lianyun yang terkenal, jadi aku pergi ke sana semalam suntuk dan memenggal kepala para pemimpin mereka. Sedikit terlambat," ujar Wang Shifang sambil melemparkan karung di tangannya ke atas arena. Karung itu terbuka, dan lima atau enam kepala yang berlumuran darah menggelinding keluar. "Tapi jangan khawatir, aku akan segera mengirimmu untuk berkumpul dengan mereka."
Warga yang baru saja bangkit berdiri di bawah arena menjerit histeris saat melihat kepala-kepala itu menggelinding keluar.
Kelompok Bandit Lianyun di Gunung Yanshan itu sangat terkenal, bahkan bagi penduduk ibu kota. Konon, mereka memiliki lima ratus prajurit elit, dan para pemimpinnya adalah ahli bela diri tingkat dasar, bahkan ketua mereka kemungkinan besar adalah seorang ahli tingkat setengah master. Pasukan kerajaan sudah berkali-kali mencoba membasmi mereka namun gagal. Tak disangka, dalam satu malam saja, Wang Shifang seorang diri membantai mereka semua. Ia bahkan menunggang kuda menempuh ratusan mil hanya untuk mengikuti ujian bela diri ini guna membunuh Gu Yue'an.
Orang ini... benar-benar terlalu angkuh!