Bab Seratus Tiga Puluh Dua: 【Kedermawanan yang Tulus】

Memanggil Para Pahlawan Tangan kanan Chen Senran 2381kata 2026-03-31 22:27:10

Setelah Gu Yue’an mengalahkan Xie Yuliu, mereka berdua berjalan keluar dari lapangan latihan utama dengan bahu berdampingan. Wang Lin duduk di atas kereta kuda sambil memandangi mereka dengan tatapan yang agak aneh.

Baru saja ia menyaksikan seluruh pertarungan mereka. Sesaat sebelumnya, keduanya masih bertarung sengit seolah memiliki dendam hidup dan mati, tetapi sekarang mereka malah berjalan bersama seperti tak terjadi apa-apa.

Bahkan Wang Lin yang berpengalaman luas pun benar-benar tak dapat memahami persahabatan di antara mereka.

Yang satu adalah orang gila yang bertindak semaunya sebagai pendekar pengembara dan gemar mencampuri urusan orang lain, sementara yang satu lagi pendiam dan tertutup, bahkan sanggup tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang hari—bagaimanapun juga, tak mungkin ada orang yang menghubungkan keduanya. Namun kenyataannya, mereka justru sahabat baik.

Sungguh sulit dipercaya, tetapi memang begitulah adanya.

“Bos… tidak, Kak An, kau tidak apa-apa?” tanya Wang Lin pelan kepada Gu Yue’an, sembari diam-diam melirik Xie Yuliu. Dari luar, Xie Yuliu tampak baik-baik saja.

“Ada apa?” Gu Yue’an bertanya heran. Kemudian seolah teringat sesuatu, ia berkata, “Oh, antar kami pulang dulu, lalu belilah arak. Yang bagus.”

“Mendadak membeli arak untuk apa?”

“Untuk merayakan,” jawab Gu Yue’an sewajarnya.

“Merayakan… apa?” Wang Lin tak kuasa melirik Xie Yuliu.

“Merayakan kemenanganku.”

Gu Yue’an tampaknya benar-benar lupa bahwa orang yang baru saja ia kalahkan sedang berdiri tepat di belakangnya.

Kepala Wang Lin terasa kebas. Ia sungguh takut Xie Yuliu akan mencabut pedang dalam kemarahan dan menebas Gu Yue’an sampai mati.

Namun kekhawatirannya jelas berlebihan. Xie Yuliu sepertinya sama sekali tidak mendengar percakapan mereka. Dari luar, ia tampak sedang menyimak, tetapi pikirannya sebenarnya melayang entah ke mana, tak seorang pun tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Wang Lin mengembuskan napas lega. Ia segera mempersilakan Gu Yue’an dan Xie Yuliu naik ke kereta. Setelah mengantar mereka ke Kediaman Gu, ia kembali membeli banyak arak bagus sesuai perintah Gu Yue’an.

Malam itu, halaman luas Kediaman Gu diterangi cahaya lampu yang terang benderang. Di bawah sinar bulan sabit dan cahaya lampu, Gu Yue’an, Wang Lin, dan Xie Yuliu duduk minum bersama.

Saat meneguk arak, Wang Lin masih merasa gelisah. Xie Yuliu tetap tampak tidak sepenuhnya sadar, membuat Wang Lin curiga bahwa setelah sekali lagi kalah dari Gu Yue’an, pikirannya masih belum pulih. Ia takut, begitu Xie Yuliu tersadar sepenuhnya…

“Aku sudah menemukannya.”

Tiba-tiba Xie Yuliu seolah kembali sadar. Ia menatap Gu Yue’an.

Wang Lin langsung siaga penuh. Pikirannya berputar cepat. Jika Xie Yuliu benar-benar menyerang nanti, haruskah ia membantu Gu Yue’an atau melerai mereka?

Meskipun ia merasa kedua pilihan itu sama-sama sangat sulit dilakukan. Sedikit saja salah langkah, ia mungkin akan terkapar sebagai mayat di tempat.

Namun ia tetap mengertakkan gigi dan bersiap maju. Bagaimanapun, sekarang ia sudah bisa dianggap sebagai kepala pelayan Kediaman Gu. Memang, untuk saat ini tugas utamanya hanyalah mengemudikan kereta Gu Yue’an, tetapi tetap saja, di wilayah kecil Kediaman Gu ini, bukankah ia yang berkuasa?

Akan tetapi, tepat pada saat itu, Xie Yuliu telah menghunus pedangnya.

Gerakannya sangat cepat, tetapi entah mengapa juga terasa begitu lambat.

Dikatakan cepat karena Wang Lin baru menyadari Xie Yuliu telah menghunus pedang setelah mendengar suara tebasannya. Dikatakan lambat karena lintasan pedang itu masih dapat dilihatnya dengan sangat jelas.

Namun ketika ia hendak memperhatikannya lebih saksama, pedang itu sudah kembali ke sarungnya, seolah-olah Xie Yuliu sama sekali belum pernah menghunusnya.

“Serangan pedangmu tadi seharusnya dipatahkan seperti ini,” ujar Xie Yuliu.

Sungguh seorang pendekar pedang tiada banding.

Ternyata sepanjang hari ini ia terus memikirkan cara mematahkan tebasan yang digunakan Gu Yue’an untuk mengalahkannya, bukannya meratapi nasib atau menyimpan kebencian karena telah dikalahkan Gu Yue’an.

Wang Lin memujinya dalam hati sebagai seorang pendekar pedang tiada banding bukan semata-mata karena ilmu pedangnya yang luar biasa. Yang lebih penting adalah sikapnya terhadap jalan pedang. Tak heran jika ia mampu mencapai prestasi seperti sekarang.

Sebab ia adalah seorang lelaki yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya kepada pedang.

Namun setelah memikirkan hal itu, Wang Lin kembali merasa heran. Ia menoleh kepada orang yang kini seharusnya dianggap sebagai tuannya. Gu Yue’an sedang memeluk guci arak dan tampaknya sudah mabuk berat. Terhadap penjelasan Xie Yuliu, ia sama sekali tak mendengar apa pun dan hanya menarik Xie Yuliu untuk minum bersamanya.

Wang Lin benar-benar tak mengerti bagaimana orang seperti itu bisa mengalahkan Xie Yuliu.

————————————

Setelah mengalahkan Xie Yuliu, tibalah kembali masa istirahat selama tiga hari.

Gu Yue’an sama sekali tidak memiliki waktu untuk bersantai. Karena menggunakan Tebas Bulan dalam pertarungannya melawan Xie Yuliu, poin latihannya kembali terkuras habis demi membuka hubungan antara tiga roh bela diri. Ia hanya bisa keluar lagi untuk menjalankan misi-misi berhadiah dan bekerja mencari nafkah.

Gu Yue’an merasa keadaan ini tak bisa terus berlanjut. Ia hampir berubah menjadi budak pekerja milik sistem.

Namun ada satu hasil tak terduga yang diperolehnya. Orang-orang yang ia selamatkan ketika menjalankan misi-misi berhadiah beberapa hari sebelumnya ternyata datang satu demi satu untuk membalas budi.

Ada yang menawarkan imbalan ribuan keping emas, ada yang berkata tak tahu bagaimana membalas jasanya dan bersedia menjadi pelayan pria maupun wanita, bahkan ada pula yang mengatakan ingin menyerahkan diri kepadanya sebagai pasangan…

Semua itu benar-benar membuat Gu Yue’an kewalahan.

Sebelumnya ia hanya melakukannya demi mendapatkan poin, sekadar membantu sambil lalu. Ia sama sekali tidak menyangka akan muncul kelanjutan seperti ini. Karena itu, ia hanya bisa menolak semuanya. Pertama, ia tidak kekurangan uang. Kedua, ia tidak memiliki urusan yang membutuhkan orang lain untuk mengabdi kepadanya.

Adapun orang yang ingin menyerahkan diri sebagai pasangan—seandainya penampilannya tidak begitu buruk, mungkin Gu Yue’an benar-benar akan…

Namun tindakannya itu kembali menimbulkan hasil yang bahkan lebih tidak disangka-sangka: nama Gu Yue’an mulai dikenal di ibu kota.

Keternaran ini bukanlah reputasi kosong yang sebelumnya disebarkan tentang dirinya dengan bumbu berlebihan.

Hal-hal semacam itu mungkin memang menjadi bahan pembicaraan masyarakat setelah makan atau minum, dan untuk sesaat dapat membuat seluruh ibu kota heboh. Namun setelah beberapa waktu berlalu, banyak orang akan melupakan siapa Gu Yue’an, sebab di tempat seperti ibu kota, tidak pernah kekurangan kisah dan legenda yang dapat menyebar dengan cepat.

Reputasinya sekarang barulah benar-benar sebuah ketenaran.

Atau lebih tepatnya, sebuah nama baik.

Kini orang-orang di ibu kota sedang membicarakan bahwa sebelumnya mereka hanya tahu Gu Yue’an sebagai seorang pendekar yang gagah dan suka menolong. Namun karena ia sering dikaitkan dengan Gedung Penghambur Emas, betapa pun kesatria tindakannya, begitu terseret ke dalam urusan judi dan uang, semuanya menjadi tidak lagi sepenuhnya terhormat.

Bahkan ada yang mulai berkata bahwa ketika dahulu Gu Yue’an mengantar seorang gadis yatim sejauh ribuan li, menentang kewibawaan demi melawan putra mahkota, lalu seorang diri menerobos Kediaman Putra Mahkota untuk membunuh Dugu Yu, semua itu hanyalah sandiwara yang sengaja dibuat demi mengangkat namanya.

Jika mengingat bahwa pada akhirnya bahkan Kaisar ikut turun tangan, wajar bila orang-orang mulai berpikir macam-macam.

Akibatnya, tindakan kesatria Gu Yue’an yang paling terkenal pun tenggelam di tengah berbagai desas-desus.

Namun tindakan yang dilakukan Gu Yue’an sekarang berbeda.

Ia menyelamatkan orang-orang dari kesengsaraan, dengan ringan menghamburkan ribuan keping emas, dan sepenuhnya tampak tidak mengharapkan imbalan. Ia bahkan tidak pernah menyebutkan namanya. Ia hanya berkata, “Aku, Zhao Zilong, selalu berbuat baik tanpa meninggalkan nama. Kalian boleh memanggilku Lei Feng.”

Seandainya pada suatu kesempatan tidak ada seorang anggota rombongan pengawal yang dirampok—orang yang sebelumnya sangat tertarik pada Gu Yue’an dan sengaja mempelajari segala hal tentangnya—lalu mengenalinya, hingga kini orang-orang mungkin masih tidak akan tahu siapa pendekar budiman yang sering menolong di sekitar ibu kota itu.

Nama Gu Yue’an sebagai seorang yang murah hati dan suka menolong pun perlahan mulai tersebar di ibu kota.

Meskipun baru sebatas reputasi kecil, itulah tetes air pertama yang jatuh dari langit. Pada akhirnya, tetes-tetes itu akan berkumpul dan menjadi lautan.