Ketulusan hati
Sejak pulang dari kediaman keluarga Li, Qiu Mo menjadi sangat, sangat sibuk. Biasanya, setiap bulan ia hanya perlu meracik satu resep wangi untuk diserahkan kepada Cabang Ketiga keluarganya, namun kini bukan hanya harus membuat wewangian obat, bahkan resep-resep lain pun harus ia tangani.
Pada suatu jamuan keluarga, Nyonya Tian menceritakan bagaimana Qiu Mo telah membantu Nyonya Li keluar dari kesulitan di kediaman gubernur. Para tetua keluarga Qiu pun tak henti-hentinya memuji Qiu Mo. Di saat itulah, Qiu Shiming memanfaatkan kesempatan untuk mengusulkan di hadapan semua orang agar di Toko Shan Chuntang juga dibuka etalase khusus wewangian, dan meminta Qiu Mo membuat lebih banyak varian wewangian untuk dijual di sana.
Qiu Mo hanya tersenyum di wajah, namun hatinya terasa getir. Bukankah ini sama saja dengan memintanya menggunakan keahliannya untuk merugikan toko keluarganya sendiri?
Tugas di Shan Chuntang sebenarnya tidak akan terlalu lama, dan ia pun selama ini hanya sekadar menyelesaikan tugas sebisanya. Waktu lainnya ia gunakan diam-diam untuk membuat resep wangi bagi Toko Feng Yun. Kini, setelah dipuji-puji oleh ibu dan anak dari Cabang Ketiga, Qiu Mo merasa seperti berada di persimpangan yang sulit: ingin mundur tak bisa, terus melangkah pun terjerat.
Saat itu ia tidak sempat berpikir panjang; seandainya saja ia meminta Nyonya Li merahasiakan bahwa dirinya adalah pembuat aroma kayu cendana mengalir, semuanya tentu tak akan serumit ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur, untuk saat ini ia pun tak punya pilihan lain. Qiu Mo hanya bisa menggigit bibir, membagi-bagi waktu seefisien mungkin, dan berusaha agar setiap resep yang ia buat mengalami sedikit penyesuaian, lalu bergantian diserahkan kepada Cabang Ketiga dan He Guang. Untungnya, He Guang sangat memahami keadaannya, sehingga ia pun menunda penjualan resep-resep yang mirip dengan Shan Chuntang. Dengan begitu, bisnis wewangian Feng Yun masih bisa bertahan, dan identitas Qiu Mo sebagai pemilik di balik layar pun belum terungkap.
Namun di balik itu, setiap bertemu dengan Wen Weixing, He Guang selalu saja menepuk pundak Wen Sanlang, lalu mengeluh padanya, “Sanlang, kapan kau akan menikahi Nona Ketiga? Ia sudah begitu lelah di rumah keluarga Qiu, aku sendiri pun tak tega melihatnya.”
Biasanya, Wen Weixing selalu tampak ceria setiap kali memikirkan Qiu Mo, seolah hidupnya seindah madu. Namun belakangan, ia justru sering tampak murung dan penuh beban pikiran. Ia tak menjawab pertanyaan He Guang, hanya menghela napas dan berbalik meninggalkan Toko Feng Yun. Hal itu membuat He Guang bingung, apakah ada masalah dalam hubungan mereka berdua?
***************************************
Sudah hampir sebulan berlalu sejak jamuan Qushui Liushang di rumah keluarga Li. Hari itu, undangan dari Nyonya Li kembali dikirimkan ke kediaman keluarga Qiu, kali ini secara khusus hanya mengundang Qiu Mo saja.
Nona Kelima dari Cabang Ketiga tentu saja kembali mengamuk di rumah, membanting barang-barang, sementara wajah Nyonya Tian tampak sangat muram hingga menakutkan. Nyonya Song sudah lama mencoba menenangkan mereka, barulah dua perempuan dari Cabang Ketiga itu sedikit tenang.
Kali ini, Qiu Mo kembali membawa sebongkah aroma kayu cendana mengalir sebagai hadiah untuk Nyonya Li. Saat Shuang Han menggandeng tangannya turun dari kereta sapi, Nyonya Liu, pelayan kepercayaan Nyonya Li, sudah lama menunggu mereka di depan pintu.
“Nona Ketiga, Nyonya sudah sangat tak sabar menunggu Anda di dalam, silakan ikut saya,” ujar Nyonya Liu dengan ramah dan hangat. Ia pun memimpin Qiu Mo dan Shuang Han menuju ruang dalam tempat Nyonya Li berada.
Ketika Qiu Mo melangkah masuk ke ruang dalam, ia melihat Nyonya Li sedang membelakangi mereka, berdiri di hadapan sebuah meja panjang. Di atas meja itu terhampar banyak gulungan lukisan sepanjang lengan bawah, Nyonya Li tampak memeriksa satu per satu, seolah sedang memilih sesuatu.
Qiu Mo diam saja, berdiri tenang di samping sambil menunggu. Nyonya Liu lalu mendekat ke sisi Nyonya Li, berbisik pelan, “Nyonya, Nona Ketiga sudah datang.”
Mendengar itu, Nyonya Li pun berbalik. Melihat Qiu Mo, wajahnya langsung mengembang cerah dengan senyum lebar. “Mo'er, kau sudah datang!” serunya sambil melambaikan tangan, “Ayo, kemarilah, ke sini.”
Qiu Mo pun menurut, melangkah mendekat. Tampak Nyonya Li mengambil salah satu gulungan di atas meja, lalu membukanya perlahan di hadapan Qiu Mo...
Di dalam lukisan itu tergambar seorang pemuda tampan dan gagah, bersenjatakan pedang di pinggang, tubuhnya tegak laksana pohon pinus. Ia berdiri dengan tangan di belakang, menatap langit biru dengan senyum tipis di bibir, dan sorot matanya dalam, penuh kebijaksanaan.
“Ini siapa?” tanya Qiu Mo bingung pada Nyonya Li. Ia tak mengenal lelaki dalam lukisan itu, juga tak paham kenapa Nyonya Li memanggilnya hanya untuk memperlihatkan gambar seorang pria.
“Ia bernama Wei Renyue, bergelar Siqian, berasal dari keluarga Wei di Jingzhao. Anak ini jujur, berprinsip, rajin, dan penuh semangat. Ia dua tahun lebih tua darimu, delapan tahun sudah kehilangan ibu, sama sepertimu. Menurutku kalian cocok, jika kau suka, biar aku yang jadi perantara. Bagaimana?” kata Nyonya Li sambil tersenyum penuh harap, menanti jawaban Qiu Mo.
Jantung Qiu Mo berdebar keras; ia sama sekali tak menyangka Nyonya Li memanggilnya untuk acara perjodohan semacam ini.
“Eh… Nyonya… soal pernikahan, saya masih harus meminta pendapat Ayah, tidak berani memutuskan sendiri,” jawab Qiu Mo terbata-bata.
Namun Nyonya Li tak menyerah, “Kalau kau tak suka pemuda ini, bagaimana dengan yang ini…” Ia hendak membuka gulungan lain, namun Qiu Mo buru-buru mengangkat tangan mencegahnya.
“Nyonya, sungguh tak perlu…” Qiu Mo berkata tulus, suaranya tegas dan mantap.
Nyonya Li mengernyit, “Nona Ketiga, aku tahu kau tak bahagia di keluarga Qiu. Dengan kemampuan ayahmu, mustahil ia bisa mencarikan jodoh baik untukmu. Usiamu sebentar lagi lima belas, dan dengan watak pemilik rumah keluarga Qiu, jangan-jangan kau akan dijodohkan dengan menantu masuk, lalu dipermainkan seumur hidup. Mungkin kau bisa pulang dan bicarakan dengan ayahmu, lihat sendiri apakah aku benar.”
“Aku tahu, aku tahu Nyonya Li mengkhawatirkanku, hanya saja…” rona merah merayap di pipinya yang putih halus, “hanya saja, aku sudah punya seseorang di hati.”
“Oh?” Nyonya Li terkejut, matanya membelalak.
“Nyonya mungkin tak tahu karena jarang keluar rumah,” kata Qiu Mo, “Ia adalah Sanlang dari keluarga Wen.”
Begitu selesai berkata, Qiu Mo menundukkan kepala, telinganya memerah karena malu.
Nyonya Li tertegun sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Qiu Mo mengangkat kepala, heran, mendapati Nyonya Li menutup mulut sambil tertawa hingga meneteskan air mata.
“Aduh... jadi kau memang sudah punya seseorang di hati? Rupanya aku yang ketinggalan zaman? Sanlang dari keluarga Wen, hmm, ayahnya adalah pejabat tinggi Wen Yanbo, ya, lumayan juga. Tapi aku masih punya pilihan lebih baik, mungkin kau mau pertimbangkan lagi?...”
Qiu Mo semakin malu, “Nyonya, janganlah mengolok-olok saya. Selain Wen, saya tak ingin yang lain.”
Nyonya Li masih tersenyum, lama kemudian baru kembali serius. Ia berkata, “Sanlang dari keluarga Wen, aku tahu, ia belajar di bawah seorang jenderal. Kelak ia pasti akan turun ke medan perang, kau tidak takut...”
Kalimat itu memang tidak selesai, namun Qiu Mo paham maksudnya—bagaimana jika nanti menjadi janda muda?
Namun Qiu Mo telah mantap dengan pilihannya, mana mungkin ia goyah dengan mudah?
“Terima kasih atas perhatian Nyonya, tapi hati saya sudah bulat, tak akan berubah.”
Melihat tekad Qiu Mo, Nyonya Li tak memaksa lagi, hanya berkata, “Baiklah, kalau kau sudah yakin, aku tak akan memaksa. Ayo, kita makan kue teh, hari ini aku sengaja menyuruh pelayan membeli camilan susu emas terenak dari Pasar Barat...”
Ia pun menggandeng Qiu Mo, sambil mengobrol dan tertawa, berjalan menuju paviliun batu di dekat taman bunga...
Begitu mereka menjauh, dari balik sekat ruang dalam, muncullah sesosok bayangan; ia adalah Nyonya Qiao, istri utama keluarga Wen.