Putri Menikah
Pada bulan Juni tahun 632, Putri Tertua Kekaisaran Tang, putri kandung Kaisar Tang Li Shimin dan Permaisuri Zhangsun, yakni Putri Changle Li Lizhi, secara resmi menikah ke keluarga Zhangsun, dipersunting oleh Zhangsun Chong, pejabat muda di Kementerian Agama Kekaisaran.
Pada hari pernikahan sang putri, langit membentang tanpa awan, matahari bersinar terang, dan angin bertiup lembut, menghadirkan hari yang indah. Rakyat berduyun-duyun memenuhi kedua sisi Jalan Zhuque, menantikan dengan penuh antusias untuk menyaksikan kemegahan pernikahan putri.
Sesuai dengan tata cara pernikahan putri kekaisaran, setelah tengah hari, tandu putri akan keluar dari Gerbang Zhuque, lalu berjalan hingga pertengahan Jalan Surga Zhuque, baru kemudian berbelok masuk ke kediaman putri yang dihadiahkan oleh kaisar. Meski jaraknya tak terlalu jauh, namun inilah kesempatan langka bagi warga Chang’an untuk menyaksikan kebesaran dan kemegahan keluarga kaisar.
Begitu jam baik yang telah ditentukan sebelumnya oleh ahli astronomi tiba, Gerbang Kota Zhuque pun terbuka dengan suara gemuruh. Sebuah iring-iringan beranggotakan tiga puluh dua pelayan istana dan kasim melangkah keluar dari dalam istana, mengangkat tandu emas murni bagi sang putri. Sepanjang perjalanan iring-iringan, terdengar sorak-sorai dan ucapan selamat dari segala penjuru, seluruh jalanan pun bergemuruh oleh kegembiraan rakyat.
Seorang gadis berbalut busana pengantin berwarna gelap duduk anggun di atas tandu kekaisaran. Wajahnya tertutup kipas kebahagiaan, namun dari leher dan kulit yang tampak, jelas terlihat kulit sang putri bersih, lembut, dan putih bagai batu giok salju, memancarkan keindahan dan kemurnian. Rambut hitam legamnya ditata rapi dan tinggi, dihiasi mahkota burung phoenix bertabur permata aneka warna, berjuntai rumbai-rumbai yang berayun mengikuti gerak tandu, membuat penampilannya semakin agung, anggun, dan penuh wibawa.
Itulah Putri Changle Li Lizhi, putri kandung tertua Kaisar Tang Li Shimin, yang baru saja menginjak usia tiga belas tahun.
Tandu yang dinaiki sang putri pun dihias dengan sangat teliti. Dasarnya dilapisi permadani tebal, dinding tandu diukir dengan motif naga dan burung phoenix yang gagah. Di keempat sudut tandu tergantung kantung dupa berbentuk bulat dari logam, yang setiap kali bergoyang, menimbulkan suara gemerincing merdu dan menghembuskan aroma harum yang semerbak, seolah taman bunga sedang bermekaran, membuat siapapun yang menghirupnya merasa bahagia.
Tandu berjalan perlahan, diikuti enam pelayan wanita, masing-masing membawa kurungan bambu yang dibungkus kain sutra emas. Ketika semua orang bertanya-tanya apa isinya, tiba-tiba para pelayan membuka kain penutup itu, sontak membuat semua orang berdecak kagum.
Tak terhitung kupu-kupu berwarna-warni terbang keluar dari kurungan, beterbangan mengitari tandu di segala arah. Beberapa kupu-kupu hinggap di tubuh sang putri, seolah menanti panggilan darinya, enggan pergi.
Senyum lembut dan anggun tersungging di bibir sang putri. Ia mengulurkan tangan membelai kupu-kupu itu, membiarkan mereka berputar di sekelilingnya.
Itu adalah pemandangan yang sangat memukau dan penuh keindahan.
Tandu sang putri melaju di Jalan Zhuque diiringi kupu-kupu, sementara rakyat Chang’an yang berbaris di kedua sisi jalan, yang semula bersorak dan bergembira, kini terdiam terpukau oleh pemandangan di hadapan mereka. Hiruk-pikuk jalanan mendadak berubah senyap.
Setelah beberapa lama, tiba-tiba terdengar suara dari kerumunan, “Ini pertanda keberuntungan dari langit! Semoga memberkati Dinasti Tang kita!”
Ucapan itu seolah menjadi isyarat—seketika, kerumunan pun bergemuruh kembali, rakyat berlutut serempak, berseru lantang, “Hidup panjang untuk Baginda! Seribu tahun untuk Putri Changle!”
Sorak-sorai yang membahana hingga menembus awan itu bahkan terdengar oleh Kaisar Li Shimin dan Permaisuri Zhangsun di dalam istana. Pada hari itu, kewibawaan Dinasti Tang mencapai puncaknya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
*****
“Perhatian! … Toko Aromaterapi Pengyun telah berjasa, diangkat menjadi pemasok istana, serta diberi hadiah perak…”
“Perhatian! … Ny. Qiu, istri Wen Bingde dari Keluarga Wen, rendah hati, cerdas, dan bijaksana, secara khusus dianugerahi gelar Perancang Aroma Istana, setara dengan tabib istana tingkat delapan utama, berhak menerima tunjangan kerajaan. Selain itu, diizinkan bekerja sama dengan Toko Pengyun untuk mengelola pengadaan bahan aroma di ibu kota dan mengembangkan aroma baru…”
“Hamba berterima kasih atas kemurahan Baginda!”
Qiu Mo berlutut di depan aula utama kediaman Wen, dengan kedua tangan menerima surat perintah kaisar yang diserahkan oleh kasim pembaca titah. Air mata kebahagiaan membasahi matanya.
Bertahun-tahun ia berjuang dan menunggu. Akhirnya, berkat kerja keras dan pengorbanannya, Qiu Mo meraih apa yang selama ini ia impikan.
Ia tak lagi harus tunduk pada orang lain; tak perlu lagi diam-diam meracik aroma; dan yang terpenting, ia tak perlu lagi menyembunyikan hubungannya dengan Toko Pengyun. Kini, ia bisa melangkah masuk ke toko itu dengan bangga dan terbuka, memperkenalkan karya-karyanya kepada pelanggan yang memilih aroma.
Untuk hari ini, ia telah bersabar selama delapan tahun.
6.2
“Berdirilah, Nyonya Qiu!” Begitu surat perintah selesai dibacakan, kasim itu segera maju selangkah, mengulurkan tangan untuk menolong Qiu Mo berdiri. Suaminya, Wen Weixing, sejak awal ia berlutut untuk mendengar titah, sudah menatapnya dengan cemas. Begitu Qiu Mo hendak berdiri, Weixing pun sudah lebih dulu berada di sisinya, memegang pinggangnya, membantu agar ia dapat bangkit perlahan.
Saat itu, Qiu Mo tengah mengandung tujuh bulan. Perutnya sudah besar dan menonjol, namun tubuhnya tetap ramping, wajahnya putih berseri, tetap menampilkan kecantikan muda seorang gadis.
Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan hatinya, lalu sekali lagi membungkuk hormat kepada kasim pembaca titah, “Terima kasih, Tuan, sudah jauh-jauh datang kemari.” Ia menoleh ke arah Shuanghan, yang segera paham lalu mengeluarkan kantong berat dari lengan bajunya dan menyelipkannya ke tangan kasim itu.
“Tak perlu berlebihan, ini memang sudah menjadi tugasku,” ujar kasim itu sambil tersenyum. “Lagipula, aku harus segera kembali ke istana untuk melapor pada Baginda. Nyonya Qiu, jagalah kesehatan demi kandunganmu. Kami masih menantikan jamuan minum arak saat bayi tuan Wen lahir nanti, haha.”
Wen Weixing menatap penuh kasih pada wajah Qiu Mo yang memerah, dengan gembira berkata pada kasim itu, “Nanti, pasti kami undang Tuan untuk minum bersama!”
Kasim itu pun mengangguk ramah, tak berkata banyak lagi, memberi salam kepada segenap keluarga Wen, lalu berbalik pergi.
Setelah kasim itu berlalu, Wen Weixing pun dengan hati-hati menuntun Qiu Mo masuk ke aula utama.
Di dalam aula utama, seluruh anggota keluarga Wen sudah berkumpul, tersenyum kepada menantu ketiga mereka yang baru saja menerima anugerah dari istana.
“Mo’er, sebaiknya kau biarkan Bingde mengantarmu ke kamar untuk beristirahat. Kau baru saja lama berlutut, perutmu yang besar dan runcing ini membuat hatiku ikut terhimpit,” ujar Nyonya Qiao, mertua Qiu Mo, sambil cepat-cepat menyambut dan memegangi lengannya.
Istri kakak sulung, Nyonya Wei, tersenyum berkata, “Ibu, sepertinya adik ipar akan melahirkan bayi lelaki besar. Bentuk perutnya persis seperti waktu aku mengandung Li’er. Keluarga Wen akan segera bertambah anggota, dan dengan anugerah ini, kita mendapat dua kebahagiaan sekaligus!”
Semua pun tertawa gembira. Qiu Mo mengelus perut besarnya sambil tersenyum.
Wen Weixing akhirnya tak tahan dan menyela, “Ayah, Ibu, Kakak, Kakak ipar, aku antar Mo’er ke kamar dulu. Kalau terlalu lama berdiri pinggangnya pasti sakit, nanti kasihan tidak kuat.”
“Baiklah, cepat bawa Mo’er beristirahat. Kalau ia ingin makan apa-apa, langsung bilang pada pengurus rumah, biar dapur segera mengirim ke paviliunmu,” pesan Nyonya Qiao.
Weixing mengangguk, lalu menuntun Qiu Mo ke kamar mereka.
※※※※※
Dalam perjalanan ke kamar, Qiu Mo dan Weixing berbincang banyak. Belakangan, kesehatan ayah Weixing semakin memburuk. Meski tidurnya membaik berkat perawatan dari Qiu Qianqing, Qiu Shirong, dan Qiu Mo, tekanan pekerjaan dan persaingan sengit di istana dengan Wei Xuancheng membuat Wen Yanbo makin kelelahan, dan luka lama akibat pernah menjadi tawanan pun kembali kambuh.
Weixing merasa tak berdaya menghadapi kondisi ayahnya. Selain percaya pada pengobatan keluarga Qiu dan berusaha membantu ayahnya dalam urusan pemerintahan bersama kakaknya, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Melihat Weixing tampak murung, Qiu Mo menggenggam tangannya lembut, “Nanti malam aku akan membuat bubur lili dan kacang hijau. Tolong antarkan pada Ayah dan Ibu, ya?”
“Kalau ibu tahu aku masih membiarkanmu memasak, pasti aku kena jewer,” Weixing menggeleng sambil tersenyum.
Qiu Mo pun ikut tertawa. Kini Nyonya Qiao sangat menyayanginya, bak permata yang takut jatuh jika dipegang, takut larut jika disantap. Kalau Weixing benar-benar menyuguhkan sup buatan Qiu Mo pada ayahnya dan mengaku itu buatan istrinya, Nyonya Qiao memang mungkin saja akan menjewer telinganya.
Weixing menggenggam tangan Qiu Mo, melanjutkan perjalanan, “Mo’er, kemarin Paman He datang menemuiku. Ia bilang Perusahaan Dagang Yan datang menanyakan perpanjangan kontrak eksklusif tahun depan. Katanya belum memberi jawaban dan ingin tahu pendapatmu. Bagaimana menurutmu?”
Qiu Mo berpikir sejenak, lalu berkata, “Perusahaan Dagang Yan suka menghalalkan segala cara. Dulu aku terpaksa bekerja sama dengan mereka karena keadaan. Sekarang Pengyun sudah menjadi pedagang kerajaan, posisinya sejajar, dan aku pun sudah jadi Perancang Aroma Istana setingkat pejabat utama. Aku tak perlu takut lagi pada pandangan orang. Kini sudah memegang kendali, tentu aku tak ingin melanjutkan kerja sama. Hanya saja…”
Ia terdiam, menatap Weixing, lalu berkata pelan, “Yan Zhengchang orangnya licik. Aku khawatir, jika kita menolak perpanjangan kontrak, ia akan membuat masalah…”
“Kau tak perlu khawatir, cukup jaga kandunganmu. Aku dan Paman He akan mengurus semuanya. Aku hanya ingin kau tenang dan bahagia, urusan lain biar aku yang tangani,” ucap Weixing meyakinkan.
Qiu Mo mengangguk, bersandar di dadanya, memejamkan mata dengan bahagia.