Penculikan
Yan Zhengchang menundukkan kepala, menatap benda sulaman langka yang telah ia cari selama setengah tahun terakhir, namun dalam hatinya tengah memikirkan sesuatu. Nyonya Ketiga Kiu memang cerdik, memakai barang yang telah ia cari setengah tahun untuk ditukar dengan rahasia toko parfum yang juga didapatkan dengan susah payah. Selain itu, dengan “Aroma Penurunan Dewa” yang ia berikan, ia juga menyampaikan bahwa kekuatan utama Toko Parfum Pengyun adalah inovasi produk yang terus-menerus, bukan sekadar mencuri beberapa resep atau merebut lokasi cabang saja yang bisa membuatnya kalah.
Yan Zhengchang tersenyum tipis, lalu berkata, “Aroma ini buatan Nyonya Kiu sendiri? Hasilnya bagus juga.” Tatapannya berubah licik saat ia miringkan kepala ke arahnya, “Jika aku tidak salah, Nona Kiu berasal dari keluarga pejabat. Kau membuat parfum untuk Pengyun, apa kepala keluargamu tahu?”
Wajah Kiu Mo langsung berubah tegang. Ternyata Yan Zhengchang bukan lawan yang mudah dihadapi, ia langsung menyingkap hubungannya dengan Toko Parfum Pengyun dan menekan titik kelemahannya.
“Nampaknya Tuan Yan tidak tertarik lagi dengan kipas yang kubawa. Baiklah, Shuanghan, bungkus kipasnya, kita pergi.” Kiu Mo tiba-tiba kehilangan minat untuk bernegosiasi dengan Yan Zhengchang. Orang bijak tak akan berdiri di bawah tembok yang rapuh; orang di depannya ini jelas bukan pedagang yang jujur. Insting keenam Kiu Mo mengatakan, pria ini sangat berbahaya.
Meskipun Kiu Mo tidak sepenuhnya menganggap status keluarganya sebagai hal yang sakral sebagaimana tradisi zaman dulu, ia tetap memikirkan ayah, kakak laki-laki dan Ny. Lu yang selalu menyayanginya—mereka semua bisa saja terseret masalah karena urusan ini. Ia tidak ingin urusan dagang yang ia lakukan menjadi kelemahan yang bisa dimanfaatkan keluarga Yan.
Setelah berkata demikian, Kiu Mo pun berdiri. Shuanghan dengan sigap menutup kotak kipas, memeluknya, lalu berbalik mengikuti Kiu Mo keluar dari ruang tamu.
Keputusan tegas dua gadis muda itu sempat membuat Yan Zhengchang terkejut, bahkan sebelum ia sempat bereaksi, mereka sudah keluar dari kedai teh.
Ia mengumpat pelan dengan geram, semula ia berniat memberi tekanan lagi pada Nyonya Ketiga Kiu, dengan harapan bisa mendapatkan kipas itu dengan harga murah. Namun siapa sangka gadis mungil itu begitu berprinsip, sedikit saja tidak cocok langsung membatalkan perundingan, kini justru ia yang merasa cemas.
Kipas sebagus itu, mungkin takkan ia temui lagi. Ditambah waktu yang diberikan Yan Hongxin padanya untuk mencari hadiah ulang tahun pun sangat terbatas.
Memikirkan itu, tatapan Yan Zhengchang menjadi dingin. Ia segera memanggil seorang pelayan berbadan besar yang berjaga di depan pintu, lalu berbisik beberapa perintah.
************
Kiu Mo bersama Shuanghan melangkah keluar dari kedai teh. Ia menengadah menatap langit, sinar matahari bersinar cerah, menghangatkan tubuhnya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tak apa, paling tidak harus memilih ulang lokasi dua cabang, resep yang dicuri keluarga Yan bisa ia sesuaikan lagi. Hidup memang penuh ketidakpastian, tak perlu terlalu dipikirkan, mulai dari awal pun bukan masalah besar.
Setelah berpikir demikian, Kiu Mo pun merasa lebih lega, tak lagi terburu-buru pulang. Ia meminta Shuanghan menggendong kipas dengan hati-hati, lalu mereka berdua bersiap berjalan-jalan di Pasar Barat sebelum mengembalikan kipas itu ke kediaman Yan.
Namun tanpa diduga, empat bayangan mengikuti mereka begitu mereka keluar dari kedai teh keluarga Yan. Bahkan hingga mereka meninggalkan gerbang Pasar Barat, bayangan-bayangan itu tak juga menjauh.
************
“Cepat! Masukkan ke dalam gerobak, sial! Dasar perempuan galak, meski tampak kecil tapi mulutnya tajam, bibirku sampai berdarah...” Seorang pria pendek gemuk mengomel sambil memerintahkan rekan-rekannya untuk melempar tubuh dua gadis yang tangan dan kakinya diikat, mata mereka ditutup kain, dan mulut mereka disumpal kain, ke dalam gerobak sapi yang berhenti di tikungan jalan luar Pasar Barat.
“Kalian bertiga bawa mereka ke rumah bobrok di Yong’anfang dulu, aku akan serahkan barangnya ke bos, lalu panggil Bu Zhao untuk menaksir harga dua gadis ini. Awasi baik-baik, kalau sampai ada yang salah, kalian tanggung sendiri akibatnya!” Pria gemuk itu menjepit kotak kipas di ketiaknya, mengancam dengan suara rendah, lalu buru-buru kembali ke Pasar Barat.
Seorang pria kekar dengan bekas luka di wajah meludah tak suka setelah pria gemuk itu pergi, “Dasar penjilat, paling rajin kalau urusan cari muka di depan bos, apa hebatnya dia?” Sambil menggerutu, ia menunduk melepas tali gerobak sapi yang terikat di tiang kayu.
“Sudah, cepat jalan, jangan lama-lama, nanti malah terlihat mencurigakan.” Seorang pria tinggi mendesak, lalu mulai menggiring gerobak sapi itu perlahan.
Tanpa mereka sadari, seorang pria yang bersembunyi di sudut sedang menyaksikan semuanya dengan ketakutan. Pria itu adalah He Xin, sementara dua gadis yang diculik adalah Kiu Mo dan Shuanghan yang baru saja keluar dari Pasar Barat dan hendak menuju kediaman Yan.
************
Sejak Kiu Mo dan Shuanghan keluar dari kedai teh, He Xin sudah memperhatikan mereka. Awalnya ia masih ragu, merasa malu karena ia sendiri yang menimbulkan masalah besar di toko parfum, dan kini harus minta bantuan pada Nyonya Ketiga Kiu untuk menyelesaikannya. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana menghadapi Kiu Mo.
Saat ia tengah mengikuti mereka dan berpikir keras bagaimana meminta maaf, ia justru melihat empat pria mencurigakan juga membuntuti mereka. Begitu Kiu Mo dan Shuanghan keluar dari Pasar Barat dan sampai di tikungan, keempat pria itu langsung bergerak, mengikat mereka dan memasukkan ke dalam gerobak sapi yang sudah disiapkan.
“Apa yang harus kulakukan... apa yang harus kulakukan…” gumam He Xin, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Ia tidak berani bertindak gegabah, karena sendirian ia pasti tak mungkin bisa melawan tiga pria kekar itu. Jika mereka marah dan menyakiti kedua gadis itu, ia akan merasa sangat bersalah.
Tak ada gunanya hanya khawatir, He Xin pun memutuskan untuk diam-diam membuntuti mereka, mencari tahu ke mana mereka membawa Kiu Mo dan Shuanghan. Untungnya ketiga penculik itu memakai gerobak sapi yang jalannya lambat agar tidak mencolok, sehingga He Xin bisa mengikuti mereka dengan hati-hati tanpa ketahuan.
Setelah sampai di Yong’anfang di selatan Kota Chang’an, He Xin bersembunyi di ujung gang dan menyaksikan tiga pria itu menyeret Kiu Mo dan Shuanghan ke dalam sebuah rumah reyot, lalu menutup pintu dengan keras.
He Xin merasa sangat cemas, “Biadab, mereka!” Ia menggertakkan gigi, merasa menunggu saja tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik segera mencari bantuan. Awalnya ia ingin melapor pada petugas di kantor pengadilan, tapi kemudian sadar bahwa berani-beraninya mereka menculik perempuan di siang bolong di kota Chang’an yang terkenal aman, pasti ada orang dalam pemerintah yang terlibat. Ia pun segera menentukan arah untuk meminta tolong, berlari keluar dari Yong’anfang, meminjam seekor kuda di jalan dan langsung menuju kediaman keluarga Wen di Wubenfang.
Saat He Xin tiba di depan rumah keluarga Wen, ia kebetulan bertemu pelayan lama yang dikenalnya. Ia pun langsung masuk tanpa halangan dan bergegas ke kamar Wen Weihang. Saat itu Wen Weihang sedang membahas urusan dengan ajudannya, Cao Cheng.
“Saudara ketiga! Cepat! Nyonya Kiu diculik!” He Xin bahkan belum berdiri dengan tegak, sudah terengah-engah berteriak pada Wen Weihang.
Wen Weihang terkejut, wajahnya langsung berubah pucat. Ia berdiri dengan cepat, bertanya, “Apa yang terjadi?”
He Xin tak sempat menjelaskan, hanya memaksa berkata, “Tak sempat bicara, cepat ikut aku! Lokasinya di Yong’anfang!”
“Cao Cheng, kau lapor ke kantor pemerintah, aku ikut He Xin dulu untuk menyelamatkan mereka.” Wen Weihang meraih pedangnya dari dinding, melesat melewati He Xin dan langsung berlari keluar.
Cao Cheng mengangguk, lalu ikut keluar dan naik ke kudanya, melaju kencang menuju kantor pengadilan.