Melarikan diri
Pada suatu hari yang biasa, Gerbang Cahaya Emas di sebelah barat Kota Chang’an terbuka lebar. Berbagai rombongan orang dan kuda yang hendak keluar atau masuk Chang’an mengalir tiada henti. Gerbang Cahaya Emas terletak dekat Pasar Barat, menjadi jalur paling mudah bagi para pedagang dari negeri-negeri Barat untuk keluar masuk Chang’an. Karena itu, gerbang ini pun menjadi salah satu gerbang kota dengan arus manusia terpadat setiap harinya. Sejak awal masa pemerintahan Kaisar Tang, Li Shimin, menganjurkan pemulihan dan mendorong perdagangan antara rakyat dengan para pedagang asing, sehingga pemeriksaan terhadap para pedagang yang keluar masuk melalui gerbang kota pun jauh lebih longgar. Namun, justru karena kebijakan inilah, Gerbang Cahaya Emas menjadi tempat yang paling mudah untuk menyelinap keluar dari Chang’an.
Nyonya Song menutupi wajahnya dengan kain kerudung. Sejak lama, ia telah menjalin hubungan dengan kepala rombongan pedagang rempah dari Barat melalui putranya. Semua ini ia persiapkan demi berjaga-jaga, apabila suatu hari ia terpaksa harus melarikan diri, ia bisa memanfaatkan kemudahan yang dimiliki rombongan dagang itu untuk menyelinap keluar dari Chang’an, pergi ke tempat lain.
Rombongan dagang ini memang biasa keluar masuk dari Gerbang Cahaya Emas. Kepala rombongan, Chahar, sangat akrab dengan para penjaga gerbang. Setelah memeriksa surat jalan para anggota rombongan dengan singkat, mereka pun diizinkan keluar dari kota bersama kuda dan barang-barang mereka.
Begitu benar-benar meninggalkan Chang’an, barulah hati Nyonya Song merasa tenang. Uang hanya berarti jika masih punya nyawa untuk menikmatinya. Kepada majikannya, Nyonya Tian, ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Namun, ia pun tidak merasa terlalu bersalah. Selama bersama Nyonya Tian, ia sudah berusaha sekuat tenaga membantunya merencanakan dan melaksanakan segala urusan. Tetapi pada akhirnya, ia juga punya keluarga sendiri. Ia tidak sanggup mengorbankan nyawa demi Nyonya Tian.
Dengan pelariannya kali ini, identitas lamanya akan lenyap sepenuhnya. Mulai detik ini, segala ikatan dengan keluarga Qiu dan Tian pun akan terputus. Rencananya, ia akan ikut rombongan pedagang Barat yang dipimpin Chahar menuju barat, lalu memutar ke arah timur menuju Cangzhou. Putra dan menantunya telah lebih dulu tiba di Cangzhou, menyuap pejabat setempat, memalsukan dokumen kependudukan, mengganti nama, membeli tanah dan rumah, dan hidup dengan identitas baru. Nyonya Song ingin meniru apa yang dulu pernah dilakukan Park Soojin: demi melarikan diri dari segala dosa di masa lalu, menjauh dari Chang’an, menjauh dari kota yang bisa saja menjatuhkan hukuman mati padanya!
※※※※※※
Sementara itu, di kediaman keluarga Qiu bagian ketiga, Nyonya Tian sama sekali belum tahu bahwa Nyonya Song telah diam-diam melarikan diri dari Chang’an tanpa memberitahunya. Ia masih menunggu pengasuh kesayangannya itu kembali, membawa kabar terbaru dari kantor pengadilan.
Untuk urusan keluarga Tian, ia sudah benar-benar tak berdaya. Hukuman gantung untuk sang kakak telah disetujui oleh Departemen Kehakiman dan disahkan oleh Kaisar. Jika pada hari eksekusi, hasil pemeriksaan akhir tetap tidak berubah, maka nyawa Tian Jinlin benar-benar akan berakhir. Satu-satunya laki-laki yang tersisa di keluarga Tian, keponakannya Tian Alang, juga telah dihukum mati di tempat karena terlibat penculikan anggota keluarga Wen bersama buronan. Dalam waktu kurang dari setengah bulan, seluruh laki-laki keluarga Tian habis tak bersisa. Kakak iparnya, Nyonya Shen, tak sanggup menanggung duka kehilangan suami dan anak, jatuh sakit dan kini hanya terbaring di ranjang, nafasnya tinggal satu-satu.
Keluarga Tian yang begitu besar, hancur secepat ini, sungguh membuat Nyonya Tian merasa pilu. Namun, seberapa pun ia bersedih, apa yang bisa ia ubah? Bukankah semua ini hanyalah balasan dari dosa-dosa mereka di masa lalu?
Nyonya Tian tenggelam dalam kepedihan dan kebingungan yang belum pernah ia rasakan. Sejak Park Soojin menyerahkan diri ke kantor pengadilan, berbagai desas-desus tentang kasus itu mulai menyebar. Qiu Qianshen pun belum sekali pun pulang ke rumah. Meski ia sudah berkali-kali meminta orang untuk menjemputnya, tak pernah ada kabar balasan. Sementara Qiu Shiming, sejak awal tahun telah dikirim ayahnya ke Shangzhou di Shanxi Selatan untuk membeli empedu beruang dan gentian yang bermutu, dan kecil kemungkinan akan pulang dalam waktu dekat. Putrinya, Qiu Li, juga sakit hati karena ucapan ibunya yang keterlaluan beberapa waktu lalu. Sampai sekarang, ia masih memutuskan hubungan, enggan bertemu. Nyonya Tian benar-benar tak punya siapa-siapa untuk diajak berdiskusi, satu-satunya harapan yang ia gantungkan hanyalah Nyonya Song.
Sayang sekali, bukan Nyonya Song yang kembali, melainkan surat penahanan dari pengadilan yang lebih dulu datang menjemputnya.
“Yang Mulia! Yang Mulia, saya tidak bersalah...” Nyonya Tian yang digiring dua petugas dari kantor distrik Chang’an, diseret setengah paksa keluar dari gerbang rumah kediaman keluarga Qiu bagian tiga.
“Kalian! Apa yang kalian lakukan...” Qiu Li akhirnya menyadari bahwa ibunya akan dibawa pergi. Ia berlari keluar dari kamarnya dan melihat ibunya yang sudah sangat kusut diseret dua orang berseragam petugas. Qiu Li panik dan marah, ia menerjang ke depan mereka, menggenggam erat lengan salah satu petugas, lalu berteriak putus asa, “Kenapa kalian membawa pergi ibuku?”
Petugas yang digenggam Qiu Li itu merasa terganggu, lalu berkata ketus, “Nona, jangan menghalangi tugas kami! Kami menjalankan perintah Kepala Distrik Wang untuk menangkap tersangka utama kasus besar, Nyonya Tian.”
Selesai berkata, ia dengan paksa melepaskan cengkeraman Qiu Li. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Petugas itu tak menghiraukannya lagi, tanpa belas kasihan terus menyeret Nyonya Tian ke luar pintu.
“Li’er... carilah ayahmu, carilah Raja Yan... selamatkan ibu!” Nyonya Tian menangis sembari berteriak, namun hanya dibalas tatapan Qiu Li yang putus asa dan tak berdaya.
Pintu besar kediaman keluarga Qiu tertutup rapat, sekaligus mengurung jeritan terakhir Nyonya Tian di luar. Hampir semua tuan dan pelayan rumah berkumpul di dekat pintu, melongo menyaksikan peristiwa itu, bahkan ada yang ketakutan sampai bersembunyi di sudut dan gemetar, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah Qiu.
Qiu Qianzhan, kepala keluarga Qiu bagian kedua, juga berdiri di sana. Ia dengan dingin menyaksikan Nyonya Tian diseret keluar, namun di hatinya penuh dengan kebencian.
Peristiwa penangkapan oleh petugas hari ini, ditambah lagi dengan kabar tentang kasus pembunuhan beracun dari istri keluarga Xiao di bagian kedua, membuat Qiu Qianzhan akhirnya bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Pemerintah tidak mungkin menangkap seseorang tanpa bukti. Baru hari ini ia benar-benar percaya, ternyata istrinya tidak mati karena sakit, melainkan karena ulah istri dari bagian ketiga itu!
**
“Siapa yang berlutut di hadapan sidang ini?” Suara ketukan palu hakim membangunkan Nyonya Tian dari lamunannya. Ia mendengar dirinya menjawab dengan suara gemetar, “Hamba, Nyonya Tian, istri Qiu Qianshen dari keluarga Qiu bagian ketiga di Yan Kang Fang... Yang Mulia, hamba tidak bersalah...”
“Nyonya Tian, apakah hatimu sudah mati? Sampai tega membunuh kakak dan kakak iparmu sendiri!” Suara Wang Zhihai tiba-tiba terdengar, membuat Nyonya Tian mengangkat kepala dengan tubuh menggigil, menatap kepala distrik yang duduk di kursi tinggi itu dengan sorot mata tegas dan tajam, membuat hatinya semakin ciut.
“Yang Mulia... hamba benar-benar tidak bersalah...” Ia tak ingin menyerah, ia tak mengerti, mengapa semuanya bisa menjadi seburuk ini. Di mana Nyonya Song? Ia sudah menunggunya begitu lama di rumah, tapi sampai dirinya dibawa ke pengadilan, tetap saja Nyonya Song belum juga muncul.
“Jangan coba-coba mengelak lagi. Terus terang saja, orang yang kau suruh meracuni sudah mengaku bahwa ia melakukannya atas perintahmu. Ia juga menyerahkan bukti nyata. Kebenaran bukti-bukti itu sudah dicek oleh petugas, semuanya benar! Jika kau merasa tidak bersalah, silakan tunjukkan bukti yang dapat membantah semua ini. Kalau tidak, dengan bukti sekuat ini, sebaiknya kau akui saja perbuatanmu!” Wang Zhihai membentak dengan wajah serius.
Nyonya Tian langsung terdiam. Bukti nyata? Park Soojin menyerahkan bukti? Bukti apa? Di mana Nyonya Song? Mengapa sampai sekarang pun ia tidak juga muncul?
Namun ia segera berpikir, dari awal sampai akhir, ia memang tidak pernah langsung berhubungan dengan Park Soojin. Segalanya diatur oleh Nyonya Song sebagai perantara. Sekuat apa pun bukti yang dimiliki Park Soojin, ujungnya tetap akan mengarah ke Nyonya Song. Antara dirinya dan Park Soojin, masih ada satu lapisan perantara.
Meski pikirannya kacau, Nyonya Tian masih punya keberanian. Ia menggigit bibir, lalu dengan suara lantang berkata, “Hamba benar-benar tidak tahu menahu tentang semua ini! Segala urusan sehari-hari hamba selalu diurus para pembantu, apa yang Yang Mulia tuduhkan, hamba sama sekali tidak tahu.”
Wang Zhihai memandang tajam perempuan licik yang berlutut di bawah, paham betul bahwa perempuan itu sedang berusaha menyangkal keterlibatan dirinya. Namun, sialnya, orang penting yang menjadi penghubung, yakni Nyonya Song yang disebut Park Soojin, sewaktu penggerebekan di rumah Qiu, tak ditemukan di sana. Setelah ia perintahkan orang untuk mencarinya ke kerabat dan teman, tetap saja tak ada jejak. Jika bukan dibunuh atau disembunyikan oleh perempuan ini, berarti kemungkinan besar ia telah melarikan diri diam-diam.
Ia pun berpikir untuk menguji, apakah perempuan licik ini tahu ke mana perginya Nyonya Song.
“Nyonya Tian, di mana sekarang pengurus rumah tanggamu, Nyonya Song?”