Kegilaan
Setelah itu, Park So-jin menyuap dokter yang memeriksanya melalui perantara Su Yu-er. Sekembalinya ke kediaman keluarga Park, So-jin berpura-pura depresi. Ia tidak hanya mengurung diri di kamar, tetapi juga terus berbaring di tempat tidur tanpa nafsu makan, dengan wajah yang senantiasa murung.
Melihat kondisi putrinya, Park Chan-yeol dan Nyonya Choi tentu merasa cemas. Park Chan-yeol berniat memanggil dokter lain untuk memeriksa So-jin, namun ditolak oleh putrinya. Setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya So-jin setuju dengan syarat bahwa dokter tersebut harus dipilih sendiri olehnya.
Melihat sang putri akhirnya bersedia diperiksa, pasangan suami istri itu tidak lagi curiga. Mereka menuruti permintaan So-jin dan membiarkan Qian Miao membawa dokter yang telah ditentukan sebelumnya ke kediaman mereka.
Setibanya di sana, dokter itu bersikap seolah sedang bekerja dengan serius; memeriksa denyut nadi, melihat kondisi lidah, hingga melakukan prosedur pengobatan tradisional dengan lengkap. Hasil diagnosis yang diberikan kepada pasangan Park adalah: "Menderita penyakit karena kerinduan yang mendalam terhadap kampung halaman."
Meski Park Chan-yeol merasa ada yang ganjil dengan dokter tersebut, ia tidak bisa memungkiri bahwa pengobatannya manjur. Setelah meminum ramuan pereda stres dan penenang beberapa kali, So-jin mampu bangkit dari tempat tidur, bahkan warna wajahnya tampak jauh lebih baik.
Namun, itu bukanlah ramuan penenang. Kenyataannya, yang diminum So-jin selama ini adalah obat penguat kandungan. Pasangan itu tidak pernah menyangka putri mereka berani berbohong. Jika saja mereka memeriksa ampas obat yang direbus, mereka akan segera mengetahui kebenarannya.
Setelah kandungan So-jin stabil, dokter tersebut menyarankan kepada orang tuanya bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit hati So-jin adalah dengan kembali ke kampung halaman untuk beristirahat selama beberapa waktu. Meskipun berat hati, Park Chan-yeol dan Nyonya Choi tidak kuasa menolak saran tersebut demi kesehatan putri mereka.
Akhirnya, Nyonya Choi menulis sepucuk surat kepada Nyonya Jiang, pengasuh So-jin yang berada jauh di Silla, meminta agar ia menjaga So-jin selama masa pemulihan di sana. Nyonya Jiang segera membalas surat tersebut dan menyetujuinya. Setelah menerima balasan, So-jin membawa Qian Miao, berpamitan dengan air mata kepada orang tuanya, lalu menaiki kapal laut menuju Silla.
Sesampainya di Silla, So-jin menceritakan kehamilannya kepada Nyonya Jiang. Ia dibesarkan oleh wanita itu dan menganggapnya seperti ibu kandung sendiri. Merasa iba melihat So-jin ditipu dan terpaksa pergi karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya, Nyonya Jiang setuju untuk membantunya merahasiakan segalanya hingga anak itu lahir.
Saat pertama kali So-jin menggendong putrinya yang terbungkus kain lampin, hatinya yang membeku perlahan mencair. Gadis kecil itu begitu cantik, kulitnya putih halus seperti boneka porselen. Dengan tangan gemetar, ia mengusap pipi si kecil yang merah merona. Tiba-tiba, kebenciannya terhadap Qiu Qian-zhan sedikit berkurang.
Sudahlah, setidaknya pria itu telah memberinya seorang putri yang begitu manis. Meskipun anak ini ditakdirkan hanya memiliki ibu tanpa ayah, ia tetaplah harta berharga bagi Park So-jin. Selama putrinya bisa tumbuh dengan aman di sisinya, segalanya tidak lagi menjadi soal. So-jin memberi nama putrinya Fei-fei dan memberinya marga Park.
"Dahulu saat aku pergi, dedalu melambai-lambai; kini saat aku kembali, hujan salju turun rintik-rintik."
Nyonya Choi rutin mengirimkan biaya hidup dan surat setiap bulan. Membaca surat-surat itu telah menjadi cara So-jin untuk menyembuhkan diri. Komunikasi melalui tulisan membuatnya merasa seolah kembali ke masa remaja, seakan semua luka belum terjadi dan ia masih hidup di samping orang tuanya.
So-jin perlahan mengubur niat untuk kembali ke Chang'an guna membalas dendam pada Qiu Qian-zhan. Hidup seperti sekarang sudah cukup, biarlah masing-masing menjalani hidup dengan tenang dan tidak perlu lagi bertemu.
Waktu berlalu, hingga tiba saat Park Fei-fei berusia empat tahun. Dalam surat terakhir, ibunya mengungkapkan kecemasan mengenai masa depan So-jin. Akhirnya, So-jin memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan kenyataan dan berencana mengirim surat bahwa ia telah memiliki seorang putri berusia empat tahun tanpa ayah yang jelas.
Setelah surat itu dikirim, ia mulai membayangkan keterkejutan dan pertanyaan-pertanyaan ibunya di surat balasan nanti. Mungkin saja orang tuanya akan menyusul ke Silla atau memintanya kembali ke Chang'an untuk dimintai keterangan. Namun, So-jin yakin orang tuanya akan menyayangi Fei-fei, dan ia bisa kembali hidup tenang di bawah perlindungan mereka.
Akan tetapi, surat balasan dari Nyonya Choi tidak pernah sampai. Masa depan indah yang ia bayangkan pun tidak akan pernah terwujud.
Di penjara kantor daerah Chang'an, lilin di ruang interogasi meletup. Suara itu memecah kesunyian di tempat yang dingin dan mencekam seperti neraka tersebut.
"Kau... kau bilang ayahku... bersamamu? Park Fei-fei? Apakah Park Fei-fei itu Ting-qin?" Qiu Mo sudah tidak sanggup berdiri tegak. Ia bersandar pada tubuh Wen Wei-xing, mencari kehangatan dari suaminya agar tidak jatuh.
So-jin menatap tajam ke arah Qiu Mo, sudut bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Aku sudah begini, masih perlukah aku membohongimu? Benar, Ting-qin adalah Fei-fei. Dia adalah saudari kandungmu! Dia kakakmu... kakak kandung dari ayah yang sama!"
Setelah mengatakannya, ia tertawa lepas, namun air mata mulai mengalir di sudut matanya.
"Tidak mungkin, bagaimana mungkin Ayah melakukan hal seperti itu... sama sekali tidak mungkin!" Qiu Mo merasa sosok ayah yang diceritakan So-jin begitu asing. Ia tidak bisa membayangkan ayahnya yang biasanya sangat berhati-hati melakukan perbuatan keji seperti itu.
"Bukankah kau sudah melepaskannya? Bukankah kau berniat hidup tenang bersama Ting-qin? Mengapa pada akhirnya kau kembali? Mengapa kau membunuh ibuku! Katakan dengan jelas! Mengapa!"
"Mengapa?" So-jin berhenti tertawa, suaranya terdengar seperti tertahan dari lubuk tenggorokannya. "Karena dendam. Tentu saja karena dendam! Tanyakan pada Qiu Qian-zhan! Jika bukan karena dia, bukan karena keluargamu, apakah ayahku akan mati? Apakah ibuku akan mati?" Matanya memerah bagai hantu saat ia berteriak histeris kepada Qiu Mo.
Hampir semua orang yang hadir tertegun mendengar kata-kata itu.
"Dia mencelakai aku saja belum cukup, dia juga mencelakai orang tuaku. Tentu saja aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan, rasa dicampakkan sendirian di dunia ini oleh orang yang dicintai..."
Emosi yang meledak-ledak membuat So-jin kehilangan kendali. Ia menerjang ke arah Qiu Mo tanpa memedulikan apa pun. Qiu Mo adalah satu-satunya putri Qiu Qian-zhan yang tersisa di dunia ini, dan orang yang paling ia cintai saat ini. Bunuh dia! Bunuh dia! Pikiran itu merasuki So-jin, dan ia menyerang Qiu Mo bak roh jahat.
Wen Wei-xing dengan sigap melindungi Qiu Mo di belakangnya dan menendang So-jin hingga terpental lima langkah ke belakang. Penjaga yang berdiri tidak jauh segera menindihnya, memasang kembali borgol tangan dan kaki dengan cepat, lalu menyeretnya keluar dari ruang interogasi.
Ia diseret dengan posisi terlentang, tubuhnya lemas seperti kain lap robek. Tangan dan kakinya terseret rantai besi yang beradu dengan lantai, menimbulkan suara dentingan logam yang nyaring.
Tatapan mata Park So-jin membuat Qiu Mo merinding. Itu adalah tatapan puas seseorang yang dendam kesumatnya telah terbalaskan. Kebencian So-jin terhadap ayahnya adalah nyata. Itulah hal yang paling menakutkan bagi Qiu Mo.