Jilid Pertama: Angin dan Salju Memasuki Istana Ungu Bab Enam: Daun Persik
Di dalam ruangan yang jelas hanya diperuntukkan bagi para pelayan istana ini, bahkan tungku arang pun tak dinyalakan. Namun, bagaimanapun juga, dinding ruangan mampu menahan terpaan angin utara yang meraung dan salju dingin yang jatuh. Mu Bimei tidak terlalu memedulikan sikap acuh tak acuh Istana Qilan. Secara jujur, jika dirinya berada di posisi He Ronghua, bila ada orang yang menyebabkan kakaknya Mu Bichuan celaka, ia pun pasti akan menyimpan dendam mendalam dan melampiaskan kemarahannya tanpa peduli siapa yang bersalah.
Saat mencuci tangan, ia menunduk dan memperhatikan punggung tangannya sendiri. Bagaimanapun juga, ia masih berada di usia muda yang ranum. Walau sejak kecil selalu dimanjakan, dasar tubuhnya tetap kuat. Setelah beberapa saat berlindung dari angin, wajahnya pun perlahan kembali segar. Usai membasuh tangan dalam air hangat, warna kulitnya kembali cerah dan lembut seperti semula.
Namun, bahaya belum sepenuhnya berlalu! Walaupun Pangeran Gaoyang secara langsung memerintahkan pelayan istana bernama Taorui untuk membantunya bersih-bersih, Mu Bimei tetap tak berani lengah di wilayah kekuasaan He Ronghua.
“Nona, apakah masih merasa kedinginan?” Taorui yang menangkap kegugupannya, berpura-pura bertanya.
Mu Bimei hendak menjawab, namun pintu tiba-tiba terbuka. Seorang pelayan istana lain yang mengenakan pakaian atasan warna biru muda dan jubah hijau tua, serta sanggul tinggi, muncul di ambang pintu sambil tersenyum. Tanpa basa-basi ia berkata, “Pangeran Gaoyang sendiri yang memerintahkan agar kau dilayani, Taorui, kau ini benar-benar berani. Ruangan ini bahkan tidak dipasangi tungku arang. Untung saja aku bertanya lalu buru-buru menyuruh orang mengantarkan arang ke sini. Kalau tidak, bagaimana nanti kau menjelaskan pada Pangeran Gaoyang kalau nona ini sampai kedinginan?”
“Kakak, kau benar-benar terlalu baik pada kami. Bisa diizinkan beristirahat di sini saja sudah merupakan anugerah besar. Mana mungkin aku berani merepotkan lebih jauh lagi?” Mu Bimei, yang mendengar orang itu terus-menerus menyebut nama Pangeran Gaoyang, teringat bahwa Jizhao memang hanya sedikit lebih muda darinya, tapi tetap saja harus menjaga jarak. Ia tak ingin timbul desas-desus, jadi ia cepat-cepat menyela, “Dengan Taorui di sini menemaniku saja aku sudah sangat berterima kasih, bagaimana mungkin aku berani merepotkan kakak sampai ke sini?”
“Nona, kami justru yang tak pantas dipanggil kakak. Namaku Taoye, pelayan dekat Nyonya Ronghua. Sekarang Nyonya sedang melayani Yang Mulia, jadi tak sempat menjamu nona. Mohon pengertiannya!” Taoye berkata sambil tersenyum dan menyingkir dari ambang pintu. Ia tak lagi menyebut nama Pangeran Gaoyang, hanya tersenyum penuh arti. Dari baliknya, dua pelayan dalam mengenakan pakaian kasar membawa masuk sebuah tungku arang yang jauh lebih besar dari yang sempat Mu Bimei lihat di bilik lain Istana Qilan. Ketika Mu Bimei hendak bangkit untuk mengucapkan terima kasih, Taoye segera memberi isyarat mata pada Taorui dan berkata sambil tersenyum, “Nona hari ini baru masuk istana, lain waktu barangkali akan menjadi saudari Nyonya kami. Namun karena belum ada titah dari Yang Mulia, untuk saat ini kami hanya bisa memanggilmu nona. Harap maklum. Tapi di tengah salju seperti ini, mana mungkin kami membiarkan nona kedinginan?”
Taorui mengerti maksudnya. Ia menahan pundak Mu Bimei sambil tersenyum, “Apa yang dikatakan Kak Taoye benar. Aku tadi juga bodoh, tak terpikir. Kepala Pelayan Gu itu keras kepala, Yang Mulia dan Nyonya sedang bersama, kami semua tak berani mengganggu. Ia pun tak memberitahu bahwa nona menunggu di luar, jadilah nona harus menunggu lama. Untung saja bertemu Pangeran Gaoyang, kalau tidak, bisa-bisa nona benar-benar kedinginan.”
Mu Bimei diam-diam mendengus. Ia berdiri di luar istana lebih dari satu jam, sedangkan di serambi luar Istana Qilan setidaknya ada empat atau lima pelayan istana, belum lagi satu-dua pelayan dalam yang sempat menampakkan diri di pintu. Apa mungkin semua orang itu buta?
Namun, permusuhan dari keluarga He dan Istana Qilan memang wajar, apalagi status mereka masih berbeda. Bahkan bila statusnya setara, ia pun tak berhak marah. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum dan berkata, “Ini semua salahku sendiri. Hari ini baru menerima titah masuk istana, tanpa izin Nyonya Ronghua, aku memang tak berani melangkah ke dalam.” Ucapannya ini sengaja merendah, sekaligus menegaskan bahwa ia dipanggil langsung oleh Kaisar Taining, berharap kedua pelayan istana itu punya sedikit rasa segan.
Keluarga Mu memang anggota keluarganya sedikit, namun telah terkenal sebagai keluarga pahlawan sejak Dinasti Wei hingga dinasti sekarang. Hidup mereka tak kekurangan. Mu Bimei adalah perempuan pertama dalam tiga generasi. Walau ibunya, Ny. Min, telah wafat lebih awal, di rumah ia selalu dimanja oleh Nenek Shen maupun Ny. Xu. Sejak kecil ia dilayani para pelayan, selalu dicintai dan diperlakukan istimewa. Baru kali inilah ia harus merendah hingga seperti ini, itu pun bukan di hadapan He Ronghua, melainkan hanya pada dua pelayan istana He Ronghua. Ia memang merasa keluarga Mu sedikit banyak berutang pada keluarga He, namun tetap saja hatinya terasa tidak adil.
Namun saat menjawab, ia merasakan tekanan tangan Taorui di pundaknya mulai terasa aneh... Lalu melihat tungku arang yang dibawa dua pelayan dalam itu, ternyata jauh lebih besar dari yang ia lihat sekilas di bangunan lain Istana Qilan, dan mereka tampak hendak membawanya langsung ke arahnya. Sebuah firasat buruk langsung muncul di benaknya. Mu Bimei berusaha tetap tenang, tersenyum dan berkata, “Bagaimana aku bisa merepotkan kedua bapak pelayan?” Sambil bicara, ia hendak bangkit memberi hormat, namun tangan Taorui di belakangnya menahan bahunya erat-erat, tak mengizinkannya bangkit dari bangku sulam. Taoye di pintu pun tersenyum penuh makna, “Nona, untuk apa terlalu sopan?”
Saat berbicara, tungku arang sudah dibawa mendekati Mu Bimei. Kedua pelayan dalam itu saling pandang, bukannya meletakkan arang, justru mengangkatnya lebih tinggi hingga sejajar dengan posisi duduk Mu Bimei. Salah satu di antaranya bergetar, dan tungku arang hampir saja terbalik ke arah Mu Bimei...
Dalam situasi genting itu, Taoye bahkan sudah bisa melihat beberapa bara merah menyala dari tungku itu hendak memercik ke wajah Mu Bimei. Cukup satu bara yang mengenai, Mu Bimei takkan punya harapan tinggal di istana. Keluarga Mu yang semula hendak mempersembahkan putri, justru akan menodai nama baik Taining. Sekalipun ayah dan kakaknya telah pulang, masalah ini tak akan selesai.
Senyum kemenangan di sudut mulut Taoye belum selesai terukir, tiba-tiba terlihat kilatan amarah dan niat membunuh di mata Mu Bimei! Gadis lembut berbusana putih itu dengan santai meraih tangan Taorui yang menekan bahunya, tubuhnya tetap duduk tenang di bangku sulam. Namun, pinggangnya menekuk tajam, gerakannya lincah dan mantap—Taorui, yang khawatir kedua pelayan dalam itu bertindak ceroboh sehingga ia pun celaka, memang menahan Mu Bimei dengan kuat tapi kepalanya dipalingkan ke samping. Tak disangka, Mu Bimei memanfaatkan momen itu, menekuk pinggang dan melemparkan Taorui ke depan, tepat di hadapannya, posisi keduanya pun bertukar. Bara arang yang disengaja diciptakan oleh dua pelayan dalam itu langsung mengenai tubuh Taorui!
Walaupun musim dingin, istana He yang selalu dimanja selalu menerima jatah lebih. Hampir semua ruangan di Istana Qilan selalu hangat oleh tungku arang. Taorui dan Taoye pun tak berniat lama-lama di ruangan itu, hanya mengenakan jubah dan pakaian tipis. Dua lapis kain halus itu sama sekali tak mampu menahan panas bara. Taorui menjerit ketakutan dan kesakitan secara bersamaan, sementara Mu Bimei segera menyingkirkan tangan Taorui yang masih menempel di pundaknya, melompati bangku sulam, melangkah ringan beberapa langkah, dan tanpa tampak gelisah, tersenyum pada Taoye, “Kakak Taorui benar-benar ceroboh.”
Taoye menatapnya dengan tatapan kosong, hampir tak percaya, “Kau... bagaimana mungkin punya kemampuan seperti itu?”
Mu Bimei menoleh padanya dengan pandangan setengah mengejek, lalu melirik ke bara arang yang berserakan di lantai. Taorui masih menjerit kesakitan, kedua pelayan dalam yang membawa tungku itu sudah gemetar ketakutan. Tiba-tiba, Mu Bimei melompat ke depan, menebaskan tangan seperti pisau ke belakang leher Taorui, membuatnya langsung pingsan tanpa suara!
Melihat itu, wajah Taoye langsung berubah, hendak kabur, namun Mu Bimei bertindak secepat kilat, mencabut sebuah tusuk emas dari rambut Taorui dan mengancam, “Kalau tak mau mati, jangan bergerak!”
Taoye melirik sekilas, langsung melihat ujung tusuk emas yang setajam pisau. Ia pun langsung bergidik ketakutan, namun sebagai pelayan dekat He Ronghua, ia mencoba menenangkan diri dan membalas, “Berani sekali kau! Di dalam istana malah berani berbuat jahat!”
“Berbuat jahat apanya?” Mu Bimei mencibir, “Barusan bukankah kau bilang atas kebaikan hati nyonyamu, kau sengaja membawakan arang ke sini? Hanya saja Taorui memang sial, kakinya menginjak ujung rok sendiri, lalu terjatuh ke tungku arang hingga terluka... Mana ada kaitannya dengan perbuatan jahat? Atau jangan-jangan selama ini kau memang punya masalah dengan Taorui, hingga tadi kau yang menginjak roknya?”
“Kau!” Taoye menarik napas dalam-dalam, wajahnya memerah. Tadi Taoxhi sudah mengingatkannya agar mencari tahu mengapa putri keluarga Mu dibawa masuk ke istana oleh Pangeran Gaoyang. Kini ia tak perlu lagi bertanya, pasti Mu Bimei yang menjebak Pangeran Gaoyang. Tak disangka, gadis dari keluarga Mu yang tampak lemah lembut dan mudah tertiup angin, ternyata diam-diam menguasai ilmu bela diri! Melihat cara ia memegang tusuk emas dengan tenang, mungkin ia pun terlatih menggunakan senjata rahasia... Keluarga Mu memang keluarga jenderal turun-temurun! Kenapa hal itu sampai terlupakan? Pikiran Taoye berputar cepat, Kaisar Taining memang mengagumi kecantikan, sebab itu hampir semua selir istana berparas jelita, sedangkan pelayan istana yang cantik biasanya, bila tidak diangkat jadi selir seperti Sun Guipin, pasti ditekan secara diam-diam oleh para selir agar tersisih ke sudut istana yang tak terjangkau kaisar. Para pelayan dekat He Ronghua bisa tetap di sisinya justru karena hanya berparas manis, bukan cantik memikat. Namun pelayan dekat favorit tetap melambangkan wajah majikan, bila Taorui terluka di punggung mungkin tak apa, tapi jika di wajah, He Ronghua sekesal atau sesayang apapun, paling banter hanya akan memberi uang atau pekerjaan ringan. Ia takkan bisa lagi tetap menjadi pelayan dekat.
Saat itulah, awalnya mungkin He Ronghua masih mengingatnya, tapi setelah pelayan baru datang, hubungan pun pudar. Hanya sebatas atasan dan bawahan. Jika sampai harus keluar dari istana, dengan wajah yang rusak, hidup seorang perempuan pun tamat.
Menyadari hal itu, Taoye tak berani bertindak gegabah. Suaranya pun melunak, “Nona datang sendirian ke istana, wajar bila merasa cemas dan melakukan kekeliruan. Nyonya kami sangat baik hati, apapun kesalahan nona, ia pasti takkan mempermasalahkannya. Di sini pun tak ada orang lain, jujur saja, alasan nona masuk istana pasti demi keluarga Mu, bukan? Maka mohon nona mempertimbangkan keluarga Mu sebelum bertindak!”
Mu Bimei menangkap nada terpaksa pada ucapan Taoye, namun tetap berusaha membujuk agar ia mau mengakui salah, bahkan terus-menerus menekan atas nama keluarga Mu. Ia malah tersenyum, “Lihat dari usiamu, paling tua hanya setahun atau dua tahun dariku. Sebatas pelayan istana saja sudah berani seperti ini, memang berbeda orang istana. Tapi nyonyamu, Nyonya Ronghua, konon juga hanya setahun lebih tua dariku. Ia bisa mendidik pelayan sepertimu, apakah kau kira aku ini bodoh?”
Tanpa menunggu jawaban Taoye, Mu Bimei tiba-tiba mengubah raut wajahnya!
“Aku masuk istana atas titah Kaisar, hanya mengandalkan ‘muda dan cantik’ semata! Kau bicara tentang keluarga Mu, maka aku ingin bertanya—memang benar ayah dan kakakku bersalah di perbatasan Xuelan, namun sejak masa Wei dahulu, keluarga Mu sudah lima generasi menjaga perbatasan ini. Saat Dinasti Wei runtuh, Rouran menyerbu, demi rakyat Tiongkok, leluhur keluarga Mu rela bertempur hingga semua prianya gugur, baru akhirnya bantuan dari Yedu tiba! Keluarga yang semula besar, kini hanya tersisa satu garis keturunan, ayahku! Bahkan kaisar pendiri dinasti ini pun memuji kesetiaan keluarga kami! Sekarang, ayah dan kakakku bukan sengaja kehilangan perbatasan. Apakah pengorbanan darah keluarga Mu untuk melindungi tanah Tiongkok harus dibalas dengan pemusnahan seluruh garis keturunannya? Lagi pula, masalah ini seharusnya diputuskan oleh para pejabat negara. Nyonya Ronghua sedih atas kematian adiknya, keluarga Mu juga menyesal. Maka aku rela menunggu berjam-jam di luar istana, asalkan bisa sedikit saja meredakan amarah Nyonya Ronghua. Namun jika hanya karena kemalangan adiknya, ia ingin memusnahkan seluruh keluarga Mu—jika bertindak sedemikian tega, jangan salahkan aku juga bertindak keras!” Mu Bimei berkata dengan penuh emosi, lalu menarik Taorui yang masih pingsan, menodongkan tusuk emas ke arah Taoye, ujungnya yang tajam menyentuh pipi Taoye, dan Mu Bimei tersenyum dengan nada mengancam, “Kalian semua tampaknya memang pelayan dekat Nyonya Ronghua? Tapi lemah sekali, menjaga diri saja tak becus, kalau besok-besok tanpa sengaja melukai Nyonya Ronghua, kira-kira apa yang akan terjadi?”
Taoye dan kedua pelayan dalam itu langsung bergidik...