Bab Sembilan Puluh Empat—Bersujud sebagai Tanda Bakti kepada Guru!
Halaman (1/3)
Setelah mencetak gol, Tang Jue tidak terbang melintasi lapangan seperti biasanya. Ia berlari ke depan bangku cadangan Lyon. Para pemain Lyon yang masih larut dalam kekecewaan menatap Tang Jue dengan wajah serius, tanpa tahu apa yang hendak dilakukannya!
Tang Jue menunjuk seseorang di belakang bangku cadangan itu dan berteriak lantang, “Pintoli!”
Wajah seriusnya tidak berubah sedikit pun, tetapi air mata mulai menggenang di matanya!
Banyak suporter tidak tahu siapa Pintoli, juga tidak tahu mengapa setelah mencetak gol Tang Jue menunjuk kepadanya sambil meneriakkan namanya. Dari arah yang ditunjuk Tang Jue, orang itu tampaknya merupakan bagian dari staf Lyon. Apa hubungan Pintoli dengan Tang Jue?
Beberapa orang di bangku cadangan Lyon tahu siapa Pintoli. Mereka pernah mengenal dasar-dasar sepak bola darinya. Pintolilah yang menuntun mereka memasuki dunia sepak bola yang penuh keajaiban. Sama seperti Tang Jue, mereka pun sangat berterima kasih kepada Pintoli.
Namun, yang mengejutkan mereka, mereka belum pernah melihat Pintoli di Stadion Gerland. Hari ini Pintoli datang. Apakah ia datang untuk menyaksikan pertandingan, untuk melihat Benzema bermain?
Tidak!
Jika ingin melihat Benzema, ia pasti sudah datang sejak dulu. Mengapa baru hari ini? Kalau begitu, ia datang untuk menyaksikan pertandingan penyerang asal Tiongkok yang ada di hadapannya ini. Berita tentang Tang Jue telah lama muncul di media. Setelah itu, mereka juga mendengar beberapa kabar lainnya.
Sejak Tang Jue menerima bola, kamera televisi terus mengikutinya. Alice duduk di atas ranjang sambil menatap tayangan video di komputer. Dari ucapan Tang Jue sebelumnya, ia sudah tahu siapa Pintoli.
Mengapa setelah mencetak gol Tang Jue meneriaki pelatihnya ketika masih berada di tim yunior?
Pertanyaan yang sama juga muncul di ruang makan Tang Yuantian. Pria berkacamata itu bertanya kepada televisi, “Siapa Pintoli?”
Tang Yuantian menjawab dengan tenang, “Dia pelatih Tang Jue di tim yunior Lyon!”
Sejak kecil, Tang Yuantian selalu mengajarkan Tang Jue untuk tahu berterima kasih. Ia tahu mengapa putranya meneriakkan nama mantan pelatihnya setelah mencetak gol.
Pria berkacamata itu menoleh dan bertanya dengan bingung, “Untuk apa dia meneriakkan namanya?”
Tak seorang pun menjawab. Ruang makan itu sunyi.
Tindakan aneh Tang Jue membuat Stadion Gerland mendadak hening. Bahkan para pemain Saint-Germain yang bersiap memeluk Tang Jue pun terdiam, menatapnya.
Telefoto panjang di tangan banyak wartawan foto diarahkan ke balkon kehormatan Lyon, tepat kepada orang yang ditunjuk Tang Jue! Mereka tahu pasti ada kisah di balik semua ini dan merasa sangat bersemangat.
Di belakang bangku cadangan Lyon terdapat balkon kehormatan klub. Di sana duduk para pejabat Lyon dan keluarga para pemain. Beberapa pejabat yang mengetahui kejadian sebenarnya tampak sangat muram.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Tang Jue menunjuk Pintoli dan kembali berteriak lantang, “Pintoli!”
Suaranya sedikit bergetar, seolah-olah seorang anak sedang memanggil kedua orang tuanya.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket kuning perlahan berdiri!
Kini semua orang tahu bahwa namanya adalah Pintoli.
Air mata di mata Tang Jue mengalir menuruni pipinya dan jatuh ke lapangan. Ia berlutut dengan satu kaki, lalu membungkuk hormat kepada Pintoli!
Sembah hormat itu adalah ungkapan terima kasih atas pendidikan yang telah diberikan Pintoli kepadanya!
Sembah hormat itu adalah ungkapan terima kasih karena Pintoli telah menuntunnya memasuki dunia sepak bola!
Air mata di mata Pintoli tak lagi mampu ditahannya dan akhirnya mengalir. Menangis di hadapan empat puluh ribu suporter di stadion, menangis di hadapan ratusan juta penonton, Pintoli sama sekali tidak merasa malu. Yang ada di hatinya hanyalah kebahagiaan!
Ia tidak melakukan apa-apa. Ia tidak mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus air mata di wajahnya, juga tidak membungkuk untuk membalas penghormatan muridnya. Ia hanya diam-diam menerima penghormatan Tang Jue itu!
Saat Tang Jue berlutut dengan satu kaki, telefoto panjang dan kamera-kamera mulai berkilatan. Mereka mengabadikan momen tersebut!
Alice tidak tahu sejak kapan dirinya mulai menangis. Ia menyeka air matanya dengan tangan.
Ruang makan Tang Yuantian sangat sunyi. Yang memenuhi udara adalah keharuan yang pekat, hingga pandangan beberapa orang mulai berkabut. Mereka tahu apa yang sedang dilakukan Tang Jue. Tang Yuantian merasa sangat bangga—bukan karena putranya mencetak gol, melainkan karena putranya tahu berterima kasih!
Entah siapa yang lebih dahulu bertepuk tangan. Sesaat kemudian, seluruh orang di Stadion Gerland ikut bertepuk tangan. Termasuk para pejabat Lyon yang duduk di sisi Pintoli, Benzema yang baru saja menendang bola melambung tinggi dan kini merasa sangat malu, serta para suporter Saint-Germain yang datang dari jauh.
Boskovic menarik Tang Jue bangkit dari lapangan, lalu memeluknya erat-erat. Ia merasakan tubuh Tang Jue sedikit gemetar, sehingga ia memperkuat pelukannya. Ia bisa memahami perasaan Tang Jue saat itu.
Tang Jue menatap kamera yang berada tidak jauh dari mereka, lalu berbisik di telinga Boskovic, “Aku tidak apa-apa!”
Ia melepaskan diri dari pelukan Boskovic, berjalan ke depan kamera, lalu mengangkat kausnya ke arah lensa!
Pria berkacamata itu menatap dua baris tulisan di televisi dengan sangat serius, lalu membacanya pelan-pelan, “Lyon adalah rumahku!”
“Gol ini kupersembahkan untuk Pintoli!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Sejak meninggalkan Lyon, Tang Jue selalu menyimpan sebuah ganjalan di dalam hati. Di kehidupan sebelumnya, ia merupakan anggota keluarga Tang, keluarga nomor satu di dunia, dan ia sangat bangga akan hal itu. Setelah berpindah ke tubuh pendiri keluarga Tang, rasa bangganya bahkan mencapai puncak.
Namun, setelah tubuhnya pulih dan ia pergi ke Lyon untuk mengikuti uji coba, Lyon ternyata tidak mengirim seorang pejabat pun untuk hadir. Saat itu, ia tahu bahwa Lyon telah menyerah terhadap dirinya. Pelatih tim kedua Lyon, Guyot, hanya memberinya waktu bermain sepuluh menit. Hal itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa Lyon telah meninggalkannya.
Dengan harga diri sebesar itu, bagaimana mungkin ia mampu menanggung penghinaan semacam itu? Ketika meninggalkan Lyon, ia telah bertekad untuk mencari kesempatan dan mengembalikan penghinaan tersebut kepada orang-orang sombong itu.
Malam ini adalah sebuah kesempatan, tetapi juga bukan kesempatan. Mengalahkan Lyon yang kuat di Stadion Gerland bukanlah perkara mudah. Hanya dengan tampil sesempurna mungkin di tempat ini, ia berkesempatan mengembalikan penghinaan kepada para pejabat Lyon.
Pertandingan belum berakhir, tetapi satu gol dan satu assist sudah cukup untuk membuktikan bahwa dirinya tampil sempurna. Karena itu, setelah mencetak gol, ia menunjuk Pintoli dan meneriakkan namanya di hadapan lebih dari empat puluh ribu penonton di stadion serta ratusan juta pemirsa. Di dalam hati Tang Jue, hanya Pintoli yang benar-benar pernah memperlakukannya dengan tulus di Lyon.
Ia ingin membalas jasa Pintoli di hadapan semua orang.
Setelah berterima kasih kepada Pintoli, ia memamerkan dua baris tulisan di kaus dalamnya ke arah kamera. Menurutnya, setiap huruf dalam kalimat pertama adalah sebilah pedang. Pedang-pedang itu pasti akan menghujam hati para pejabat Lyon. Ketika melihat hati mereka berdarah, ganjalan di hati Tang Jue pun terurai.
Di depan kamera, wajah Tang Jue sama sekali tidak menunjukkan emosi. Namun, samar-samar, di dalam hatinya tidak ada kelegaan setelah ganjalan itu terurai, melainkan hanya rasa perih yang tipis.
Setelah selingan kecil itu, pertandingan kembali dimulai. Suasana di Stadion Gerland pun berubah. Para suporter kedua kesebelasan tidak lagi berteriak-teriak, melainkan jauh lebih tenang.
Para pemain kedua tim juga terdiam. Setelah hening sejenak, para pemain Lyon mempercepat tempo serangan karena mereka kini tertinggal. Tindakan Tang Jue telah meraih tepuk tangan dan rasa hormat dari semua orang di stadion. Para pemain Lyon tahu cara menghormati lawan, yaitu dengan mengalahkannya—karena kemenangan atas lawan adalah bentuk penghormatan terbesar!
Gelombang putih kembali menggelegak, satu gelombang menindih gelombang lainnya. Para pemain Saint-Germain tahu betapa pentingnya pertandingan ini bagi Tang Jue. Mereka mengeluarkan seluruh energi yang selama ini tersimpan di dalam tubuh, energi yang semula disiapkan untuk menghadapi Porto tiga hari kemudian.
Mungkin penghormatan Tang Jue dengan satu lutut telah mengubah mental para pemain Lyon. Atau mungkin pertahanan Saint-Germain memang terlalu kokoh. Ketika peluit panjang berbunyi, skor tetap dua banding satu!
Para pemain Saint-Germain yang memenangi pertandingan tidak meluapkan kegembiraan, sementara para pemain Lyon yang kalah juga tidak tampak murung. Kedua tim berjabat tangan dengan ramah. Essien menepuk bahu Tang Jue dan berkata, “Hei, Tang! Kita bertukar kaus, ya!”
Tang Jue menanggalkan kausnya dan memeluk Essien. Ia sudah melupakan perbuatan kasar Essien terhadapnya. Namun, Essien tampak sedikit canggung. Ia melihat beberapa bagian kulit Tang Jue yang membiru di sekitar pinggang, lalu menggeleng sambil tersenyum dan berkata, “Kau tidak menyimpan dendam kepadaku, kan?”
Saat berbicara, ia menunjuk bagian tubuh Tang Jue yang membiru. Tang Jue melihatnya dan berpikir, kau benar-benar orang yang berjiwa besar. Setelah kalah dalam adu mulut, kau ternyata tidak menyimpan dendam.
Ia pun tersenyum dan berkata, “Aku sudah lama melupakannya!”
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.